Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg

12.02.2009

Siapkah Kita jika Dia datang??

Mata sempat tidak bisa diajak kompromi sekitar setengah jam yang lalu. Dahyat bangets, 10.30 AM sudah ngantuk berat. Padahal, mau dibilang bergadang tidak juga.
Friends, mengapa ya kita jarang mensyukuri keadaan kita yang sehat walfiat, tubuh yang sempurna. Padahal kesehatan itu adalah kenikmatan hidup yang tiada tara. Cobalah kalau kita sakit, bukan hanya tidak nyaman, tapi kadang tak sedikit juga biaya yang kita keluarkan untuk bayar dokter, berobat...
Adalah cerita Hubby yang membuat aku merinding. Jumat malam pekan lalu, salah seorang orang tua laki-laki siswa menghadap Yang Kuasa. Sebelumnya Alm. tidak pernah terdiagnosa menderita suatu penyakit apapun, dengan kata lain dia tergolong seorang yang dipandang dari luar sehat walafiat.
Hanya saja sekitar seminggu sebelum berpulang ke Rahmatullah, Alm. pernah mengeluh sakit kepala dan setelah diperiksa menurut dokter beliau hanya kelelahan.
Entah bagaimana, singkat cerita pada malam kejadian Alm. mengeluhkan kembali sakit di kepala dan disertai kejang-kejang. Dalam cerita Hubby itu, Alm, memang punya kebiasaan menggoyangkan kedua kakinya sebelum tidur, dan pada malam saat menderita kesakitan yang luar biasa, kedua kaki itu bergoyang sangat kencang, bahkan mungkin teramat kencang.
Alm. meminta anaknya untuk lebih cepat menggoyangkan kakinya, "Onya (panggilan anaknya), cepat goyangkan kaki Papa lagi, Nak. nanti dia tidak bisa bergoyang lagi.."
Sang anak ketakutan, bingung, karena kesua kaki ayahndanya sudah bergoyang begitu kencang, bagaimana mungkin ayahnya minta digoyangkan lagi.
Pada saat itu ayahnya juga berteriak, "Dia datang...., dia datang.., Ya Allah jangan sekarang Ya Allah, jangan sekarang. Dia belum siap untuk ditinggalkan.."
Allahu Akbar, Dia Maha berkehendak. meski teriakan itu berkali-kali diucapkan.
Malam itu adalah malam terakhirnya.
Friends, sosok Alm. terkenal baik, rajin ke Masjid. Semoga Alm. diterima disisi Allah SWT.

Yang aku ambil hikmah dari cerita ini, ada suatu benang merah, bahwa kematian itu akan datang, dan pasti datang. Cepat atau lambat. Bertaubatlah bagi kita yang merasa masih belum menjadi hamba yang bertaqwa. Bukankah kadang kita melalaikan ibadah sholat (apalagi jika kita sampai tidak mendirikan sholat, dan kita jarang menganggap sholat sebagai suatu kebutuhan, bukan kewajiban), kadang kita masih sering menggunjing, berkata kasar kepada orang tua, berselisih paham antara suami istri. Istighfar, karena jika malaikat pencabut nyawa sudah datang, dia tak peduli apakah kita sudah 'siap' atau belum.
Bagi para muslimah, segeralah menutup aurat jika selama ini belum. Jangan menunggu kata 'siap' untuk itu, atau menunggu bisikan hati. Karena sesungguhnya dengan menunggu bisikan hati itujustru kita telah mengikuti bisikan syaitan. Jangan dicontoh pada selebritis yang wara-wiri di TV dengan pakaian seadanya (yang lagi ngetrend saat ini), atau menurut Dymsi seperti ini: "Gak sopan kakak yang di TV itu ya Bun, nampak micu-micunya..."(sambil menurunkan posisi baju kaosnya). Banyak hal dari diri kita yang perlu dijaga, dan kita belum melaksanakannya dengan sempurna.

Semoga kita menjadi hamba yang diampuni oleh Allah SWT. Mari kita bersama-sama 'mengislam'kan diri kita, sehingga ketika saat itu tiba, kita tidak menjadi manusia yang merugi.

1 comments:

Hendro mengatakan...

Nice post...