Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg

3.30.2009

My Home Sweet Home

Ahad kemarin kami sekeluarga tidak kemana-mana, alias di rumah saja. Makasih Hubby, sudah lebih semangat untuk berbenah. Seperti kata Dymsi: "Bunda bahagia?" Tentu saja aku bahagia.
Ada tanah hitam di dekat kompleks perumahan kami yang saat ini bebas untuk diambil. Teksturnya bagus, lembut, cocok untuk bertanam. Hubby mengambilnya kemarin sore untuk bunga-bunga kami yang tanahnya belum pernah diganti, kebetulan tetangga kami Bapak Silaban pulang dari Dalu-dalu bawa solid, semacam pupuk dari hasil pengolahan sawit yang katanya bagus untuk tanaman. Aku lihat sendiri tanaman di rumahnya subur-subur karena dikasi solid itu.
Begitu tumpukan tanah itu diletakkan disampingku, tiba-tiba aku jadi bersemangat. Langsung aku ambil pot-pot bungaku yang kebanyakan sudah kusam untuk diganti tanahnya. Nanti kalau ada rejeki, aku mau beli pot yang semen, bukan yang plastik. Jadi seandainya kusam tidak perlu diganti, cukup dicat saja. Sayang waktu cepat berlalu, tidak terasa sudah hampir azan Magrib dan kami berkemas-kemas. Sisa tanah kami tutup dengan terpal, dan ternyata tadi malam hujan. Kalau tidak ditutup kan, sayang....


Beginilah kondisi rumah kami. Tampak pot-pot yang kusam (^_^), dan terpal biru penutup tanah. Sisi kanan dan kiri rumah tidak sempat dijempret, baterai kamera keburu habis. Oya, nampak juga kabel yang hitam adalah kabel instalasi PLN yang sampai sekarang belum ada arusnya, sementara kabel yang putih adalah kabel penyambungan listrik yang dipakai sekarang. Juga tampak tenda 'jualan'ku yang dulu... Mudah-mudahan suatu saat tenda itu berganti menjadi garasi mobil kami, ya... Amin :)

Berenang lagi...

Postingan hari ini adah postingan spesial thanks untuk Ibu Yenti, pihak Water Park Kuantan Regency, atas 5 tiket berenang gratis yang kami cairkan tanggal 26 Maret lalu. Sebenarnya kurang, sih Bu. Karena kami datang 12 orang! Hehe.....
Rencana awal berangkat pagi, tapi karena banyak persiapan, akhirnya kami sampai sekitar jam sepuluh kurang, dan setelah meletakkan barang-barang, kami pun langsung nyebur ke dalam kolam yang meng'adem'kan cuaca Pekanbaru yang panas. Awalnya kami cuma ber-7, yaitu: Ibu, Melly, Juno, Yati, Hubby, daku, dan Dymsi. Aku berinisiatif mengajak si kembar Maudy & Claudy, serta Nugha. Ternyata Ibu Kembar & Merry (keponakannya) juga ikutan. Yang asik tentu saja yang nyempung, karena menikmati sekali suasana berenang di Water park tersebut. Ibu, Ibu Nugha, Merry (ups, yg ini kesian juga, udah jauh-jauh rupanya lagi 'itu' sehingga tidak mungkin berenang, padahal dia pandai berenang), dan Juno kebagian bersantai-santai saja di bangku.


Kami berkemas-kemas untuk pulang sekitar jam tiga-an, karena sudah puas berenang, makan dan masing-masing sholat di Mushola yang disediakan. Alhamdulillah sampai dengan selamat di rumah jam 4 sore. Hm.., melelahkan tapi mengasikkan. Yang tinggal sekarang adalah sisa-sisa 'kegosongan', terutama di wajah. Kulit menjadi lebih gelap!


Sekali lagi, makasih banget buat voucher berenangnya, Bu Yenti.., semoga besok-besok dapat lagi.. (Duh.., maunya....)

3.25.2009

Hubby.., oh Hubby.....

Kemarin sore sukses membuat pulut durian, sudah beberapa kali terbayang-bayang dipelupuk mata. Senang mendengar ucapan Hubby yang menyatakan 'enak', karena terus terang saja, Hubby jarang bilang masakanku enak. Paling kalau ditanya, "enak, Bang?" Jawab standarnya, "enak". Ya..., kan tidak mungkin dia mengatakan sesuatu yang membuat istrinya kecewa.
Berbicara soal suamiku, hm.... banyak sebetulnya PR buatnya. Kalau boleh dipaparkan sedikit, kira-kira seperti ini:
- Penyelesaian kuliah Akta IV - nya di UIR yang masih menggantung, sementara temannya yang lain sudah mengantongi ijazah.
- Lebih intens perhatian dan perlakuan kepada anak. Bukan berarti Hubby tidak dekat dengan Dymsi, hanya Hubby masih kurang paham pada hal-hal yang harus mulai dilatihnya lagi, seperti menggendong Dymsi ke kamar ketika anak kami itu tertidur di ruang tamu, pada posisi tertentu Hubby kebingungan, seperti apa cara mengangkatnya. Nah, perutku kan semakin membesar, hiks.., kasihan juga kalau harus menggendong Dymsi yang lumayan berat.Atau bagaimana jika nanti anak kami yang ke-2 sudah lahir, jika benar baby kami laki-laki, hubby harus menjadi teladan yang baik.
- Ikut bekerja sama, semisal menyenangkan hati istri dengan membantu sedikit pekerjaan rumah tangga. Bukankah ketika HUbby membersihkan halaman, sang istri juga ikut membantu walau tak banyak? Alangkah menyenangkan ketika kita mengerjakan sesuatu bersama-sama. Misalnya requestku minta diasahkan 3 buah pisau sudah sebulan belum ada kemajuan.. Hiks..
- Lebih rajin ke Masjid, sebagaimana yang pernah dia lakukan lebih kurang sebulan yang lalu. Sekarang pulang kerja sudah sering lebih malam, Isya sudah sering kemalaman, dan subuh juga sudah sering ngantuk berat...
- Perhatian dengan kondisi rumah, walaupun tidak direhab karena 'angka-angka'nya yang belum nampak, paling tidak ikut andil bagaimana membuat rumah lebih berseri. Sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti menomori rumah yang katanya sudah diancang-ancang, tapi masih belum nampak realisasinya...
- Hal-hal lainlah.., (masih banyak, ya??) yang kepanjangan bila diuraikan satu persatu.

Aku tahu hari ini Hubby akan membaca postinganku dari labkom sekolahnya. Kira-kira dia tersenyum, atau cemberut, ya??

3.24.2009

Penyebab Cuaca Buruk

Nah.., ini jawabannya
Aku baru baca koran Riau Pos, menurut analisa pihak BMG Kota Pekanbaru, cuaca bakal memburuk dalam sepekan ini, khususnya pada sore dan malam hari. Pasalnya ada pertemuan arus angin dari Asia dan Australia. Pertemuan arus angin ini berkumpul di atas Riau, sehingga menyebabkan tiupan angin yang sangat kencang ketika hujan. Turunnya hujan pada sore dan malam hari dikarenakan adanya pemanasan yang cukup tinggi, posisi matahari dekat ke bumi, akibatnya pada siang hari terjadi penguapan, penguapan ini menimbulkan awan-awan yang menyebabkan turunnya hujan, atau yang disebut awan CB yang otomatis akan tinggi pada sore hari. Jadi bagi kita warga Pekanbaru, waspada ya saat cuaca mendung atau turun hujan. Peralatan elektronik juga sebaiknya dijaga dengan mencabut colokan listrik dan antena tv saat hujan yang disertai petir. belajar dari hujan petir Minggu malam lalu, sudah banyak yang kena juga...

Krisis Listrik

Petir Minggu malam membuat kabel listrik ke rumah kami putus, sejak malam kami rela berpanas-panasan ditengah cuaca Pekanbaru yang hujan bersambut kilat. Heran, beberapa malam ini cuaca menjadi aneh, hujan lebat, tapi kita berkeringat. Bukankah, biasanya hujan itu membuat kita merasa kedinginan??
Akhirnya Senin kemarin aku batal berangkat kerja. Air menipis, cuma disisakan sedikit - kalau-kalau Dymsi pingin buang air besar. Jam setengah sepuluh pagi masalah kabel bisa kami serahkan ke Bang Win, tukang listrik yang biasa urus masalah listrik di perumahan. Aku, Dymsi & Wati bersiap-siap ke rumah Ibu, rencananya aku mandi di sana dan berangkat kerja, apa daya di depan rumah ketika sudah bermuatan penuh, kami dihadang oleh para tetangga yang mengajak ke kantor Developer untuk minta kepastian masalah listrik - istilahnya demo kecil-kecilan gitu.
Sebenarnya sudah 3x dalam minggu ini para Ibu-ibu ke kantor Developer, yang konon katanya dibuat seperti pasar. Tahulah, kalau para perempuan sudah bicara. Tapi ujung-ujungnya sepertinya masalah tidak bisa selesai, aku tidak tahu ending pembicaraan dengan pihak developer kemarin seperti apa, karena kami tidak ikut sampai selesai berhubung hari sudah siang, dan asal tahu aja, aku ikut ke Developer tanpa mandi dan memakai celana tidur. Gara-gara ditodong... Belum ada penyelesaian yang baik itu aku perkirakan karena tadi malam, diantaran blok I & H deretan rumah kami, hanya 3 rumah yang ada arus listriknya, Alhamdulillah kami termasuk yang 'terang' karena tidak memakai listrik proyek. Selebihnya, gelap... Sedih ya, friends. Aku terbayang bagi yang punya baby, atau balita, pasti kepanasan.
Begitulah, memang sebaiknya pindah ke perumahan yang jelas sudah ada arus listriknya,jangan seperti kami, walau sudah ada trafo, tetap saja masalah arus belum ada kepastian....
Oya, mau menambah cerita sedikit, Dymsi dapat 'teman' baru, si kaki panjang yang belum kami kasi nama. Menurut Dymsi , yang satu ini adalah 'bunda'nya adik Winky. AKu belikan kemarin karena dia pernah berpesan, kalau Bunda ada uang belikan Acy boneka, ya...

To Our Lovely & Sweety Child...

3.21.2009

:)

Akhirnya besok wiken juga..
Ingin istirahat di rumah.., ingin tidur siang bersama Dymsi...
Oya, planning berenang masih ditunda, jadi aku rasa tidak ada salahnya mempertimbangkan ajakan Hubby untuk jalan-jalan pagi - bukankah aku butuh olah raga - di taman kota, atau alternatif lain di Rumbai, atau arena MTQ?
Mudah-mudahan besok kami tidak malas untuk bangun pagi...., maklumlah hari libur. Kadang habis subuhan, tempat tidur masih menggoda untuk dijadikan tempat istirahat menjelang jam 7 pagi.. Hehe..

3.20.2009

Ibu Bazar Perkedel Jagung

Aneh... aneh..,
Setiap kali sampai di kantor nih mata kumat ngantuknya, mungkin karena sudah kenyang makan begini, ya.
Hari ini Ibu Mertua alias Nenek Labor mengikuti bazar di kantor, sekalian dengan arisan. Nah, ceritanya kan Ibu berencana membuat Perkedel Jagung buat di jual di bazar nanti.
Perkedel jagung buatan Ibu enak, lho. Menurut lidahku belum ada yang seenak buatan Ibu. Kalau makan satu, bakal ketagihan, cuma aku belum sempat mencatat resepnya, apalagi membuatnya. Kapan-kapan kalau aku sudah tahu resepnya aku postingkan ya.
Yang bikin enak dan aromanya khas, adalah daun kemangi. Soal daun kemangi ini, kalau buat lalapan seperti yang sering disajikan kalau kita makan pecel lele, aku tidak suka. Tapi kalau sudah dicampurkan ke dalam perkedel.., wah mantap rasanya.

3.18.2009

"Ayah, kembalikan tangan Dita...."

Ini aku kopas dari blog Hubby, ceritanya bagus, semakin banyak yang baca, mungkin akan semakin bermanfaat. Dari postingan Pak Yusuf Mansur di milis KGI.

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja.. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu yang terkejut dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ….kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?…. Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.


(Giliran) Ante Yati

Hari ini perasaan jauh lebih baik...
Jam sepuluh pagi kurang, tapi mataku mulai mengantuk, perut bawaan pingin diisi, mulut mau mengunyah, tapi hari ini aku tidak ada cemilan.
Mau nulis juga bingung, menulis apa ya...
Oya, menulis tentang Ante Yati saja gimana...
Si bontot ini beruntung banget, karena terlahir memiliki kulit yang putih bersih. Bahkan menurut aku, dia lebih putih dari aku - yang keturunan chinese. Jadi kalau bisa diurut, diantara mereka bertiga, Yati yang paling putih, diikuti Melly dan tentunya yang terakhir, yang mungkin bisa dibilang tidak tergolong putih adalah suamiku.
Dia orangnya ceria selalu or selalu ceria, lebih sering tertawa dalam sela-sela bicaranya. Walau profesinya adalah guru, tapi seperti yang pernah aku tulis, dia adalah guru gaul. Kalau siswanya datang ke rumah, mereka persis teman sekelas, bukan beda generasi. Mungkin itulah manfaat lebih banyak ketawa ya, friends, awet muda. Saat ini dia sedang mempersiapkan skripsi untuk menjadi Sarjana Teknik di Univ. Lancang Kuning Pekanbaru. Mudah-mudahan Agustus ini bisa wisuda.
Nah, cerita punya cerita cewek kelahiran tahun 1983 ini statusnya sekarang sedang mencari 'calon'. Katanya sih belum ketemu dengan yang tepat. Buat yang sedang mencari calon juga, dan kebetulan tertarik dengan makhluk manis di foto ini, silahkan kunjungi blognya yang ini. Mudah-mudahan tidak mengecewakan....

3.17.2009

Kesal

Kemarin aku kesal, sungguh..
Aku sadari bahwa aku adalah seorang yang gampang menangis, dan juga gampang marah.
Ceritanya senin pagi hujan. Wati, pengasuh Dymsi tidak kunjung datang dan akhirnya aku batal berangkat kerja, padahal aku sudah siap-siap, termasuk perlengkapan Dymsi yang akan di bawa ke rumah Nenek Labornya. Karena jadwal kamarin Wati menggosok di rumah Nenek. Makanya aku tidak mencuci pakaian.Jadwal sesungguhnya menggosok di rumah Nenek adalah hari Minggu, tapi karena aku tidak sampai hati melihatnya bekerja 7 hari tanpa istirahat di rumah, maka aku memutuskan dia boleh menggosok di rumah Nenek, setelah pekerjaan di rumahku selesai.
Tiba-tiba sore dapat kabar, kalau Wati jam 2 siang datang ke rumah Nenek diantar suaminya. Yang aku sesalkan adalah dia tidak memberi kabar kalau dia tidak masuk, aku menunggunya sampai jam setengah 11, mana kemarin Senin, hari yang rasanya 'malu' kalau tidak masuk kerja tanpa alsan yang jelas.
Lalu aku telp dia, alasannya hujan, kak.. gak ada pulsa. Ya ampun, aku hampir mau marah, atau marah beneran mendengar jawabannya. Apa tidak bisa suaminya meminjam pulsa temannya sekedar untuk sms aku, barangkali hanya akan habis 100 perak? Dia kan seharusnya tau, bahwa jadwal kerjanya adalah di rumah aku, bukan di rumah Nenek?
Berarti dia sudah mengabaikan aku, sementara dia tau bahwa aku kerja juga, punya atasan juga, kalau aku hanya IRT biasa tidak masalahlah kalau dia tidak masuk kerja tanpa memberi tahu begitu. Paling tidak, jika dia kasi tau sejak awal aku bisa antisipasi, entah Dymsi aku bawa, entah aku titipkan di tempat Bude Yus.
Entahlah, aku sungguh tidak bisa menahan emosiku. Maafkan aku, Hubby, karena belum bisa sesabar Hubby.

3.15.2009

Ngenet di sekolah (lagi)

Rencana awal hari ini mau berenang, tapi karena Ante Yati lagi ada kondanga di pestanya si "B", dan Om Juno lagi terserang penyakit gatal-gatal, maka planning dipending sampai minggu depan. Lagi pula sejak tadi malam Pekanbaru kami diguyur hujan.
Dari pada bengong di rumah, kami memutuskan ke sekolah Hubby, menikmati internet gratis sepuas-puasnya, tanpa syarat. Dan promosi ini jujur! Hehehe..
Sudah lama tidak berkunjung ke beberapa blog teman-teman. Jadi kesempatan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lanjut....

3.14.2009

Tiket Berenang Gratis??

Beberapa hari yang lalu aku dihubungi oleh pihak Water Park Kuantan Regency, sebab aku menampilkan beberapa foto Water Park mereka di blogku, maka aku mau diberikan tiket gratis. Wah, mantap tuh. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kalau bisa besok) bisa berenang lagi, lumayan lho, 5 tiket tanpa harus mengeluarkan uang dari dompet. Ante Yati mo ikut, kan?
Kangen juga mau berenang lagi, Dymsi sudah aku tanyain soal rencana berenang, dan tentu saja dia setuju! Katanya dia mau naik seluncuran (maksudnya water boom) sama Ante Yati, trus aku ditanya, "Bunda berani gak naik seluncuran?"
Wah.., mana beranilah... Dalam kondisi tidak hamil saja, emoh.. apalagi dalam kondisi hamil seperti sekarang ini!
Met wiken ya, friends....