Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

4.24.2015

Subuh

Subuh ini aku rindu dg bapak...
Bapak yang sudah sejak 1998 meninggalkanku..bapak yg sudah membesarkanku...
Ya Allah. Lama tak aku doakan khusus untuk bapak.. aku sedih dan merasa byk dosa dan tidak menjadi anak yg berbakti..
Bapak sangat menyayangi aku..
Bapak yg kini ada dkm memoriku..

Dan andai bapak tang im masih hidup.. tentu aku mendapat kasih syg dari dua bpk..

Dunia memang takkan habis dikejar.
Allah kuatkanlah hatiku untuk selalu bersujud. Karena aku takut dunia ada dlm hatiku..

4.23.2014

Aku Cinta Anak-anakku

Meminta Ahmad untuk tidur siang hari ini. Kumatikan siaran televisi dan seperti biasa kurebahkan kepalanya dilengan kananku. Badannya miring menghadapku, dan akupun menghadapnya. Kami berpelukan dan tidak berapa lama kemudian diapun terlelap. Sesekali kucium lembut kepalanya. Aroma keringatnya yang dikalahkan oleh aroma shampoo dan minyak telon membuat aku ketagihan mengulang ciuman di kepalanya.
Ahmad begitu dekat denganku, Ibunya. Kami seperti perangko, dimana ada aku, disitu ada Ahmad. Tiba-tiba aku melankolis, teringat entah sudah berapa banyak kenangan yang kami lalui bersama. Seumurnya, kami sering alami kejadian berdua, karena Aci dan ayahnya berangkat ke sekolah.
Masa aku kursus salon, Ahmad begitu baik, tenang menungguku, bahkan tertidur tidak rewel. Kemana-mana aku selalu siapkan kain panjang jika bepergian memakai motor, karena aku tahu dia sering mengantuk. Tak kubiarkan dia tidur tanpa rasa aman, sering ku ikat dan peluk dia hingga bahuku terkadang pegal karena dia sudah semakin besar.
Tak terasa empat bulan lagi Ahmad akan punya adik,jujur aku sedikit khawatir tidak mampu memanjakannya seperti sekarang, tidak bisa membagi waktuku dengan baik. Karena kata Ahmad, mau manja sama Bunda sampai tua :)
Ya Allah, aku sangat sayang kepada anak-anakku. Dymsi yang sering kali kusegerakan berangkat ke sekolah, tapi sangat aku cemaskan ketika dia terlambat pulang ke rumah. Tidak pernah merasa menyesal mengenang ijazahku yang tersimpan di lemari, tidak pernah merasa iri melihat ibu-ibu lain yang berpenampilan rapi sebagai wanita karir dan punya banyak relasi. Dan tidak pernah merasa dengki dengan mereka yang lebih berkecukupan karena bekerja suami istri.
Aku sayang kepada anak-anakku karena aku yakin, dengan dekat kepada mereka maka mereka kelak akan dekat kepadaku, dengan selalu ada di saat mereka butuh, maka mereka juga akan selalu ada disaat kelak aku butuh mereka. Ikhlas atas apa yang telah aku perbuat dan berharap ridho Allah, semoga anak-anak kami kelak menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah..

Aku cinta kepada mereka, anak-anakku. Cintaku tidak ada batasnya, lurus tak berkelok..
Semoga mereka juga memberikan cinta yang sama kepada kami, orangtuanya..


4.26.2013

Mati Itu Pasti, Selamat Jalan Ustad Jefri Al-Bukhori...

Hari ini Indonesia berduka.
Seorang Ustad kebanggaan masyarakat telah berpulang ke Rahmatullah dini hari jam 2 tadi, Ustad Jefri Al-Bukhori, akibat kecelakaan tunggal. Beliau menutup mata pada usia 40 tahun, usia yang masih muda. Tentunya istri, anak-anak, keluarga kerabat sahabat serta masyarakat sangat berduka atas kepergian Beliau untuk selama-lamanya.

Begitulah maut, ajal, tidak ada yang bisa menerka kapan tibanya, Tapi pasti dan tidak akan dapat kita elakkan. Ya Allah, masih banyak rasanya dosa hamba, masih jauh dari kesempurnaan diri ini... Semua kadang tidak kami sadari... Mungkin saja maut sudah sangat dekat tinggal sekali petik maka semua akan terjadi atas kehendak-Mu..
Mati itu pasti, Meninggalkan atau ditinggalkan.

Mungkin isi khutbah ini bisa membangunkan kita dari terlenanya kemilau dunia.


Menuju Kematian yang Pasti
Sumber: http://pusatkhutbahjumat.blogspot.com/2013/04/menuju-kematian-yang-pasti.html


Kematian adalah sebuah kepastian yang sangat menakutkan apa saja, termasuk hewan sekalipun, oleh kerananya meski hewan, jika ia terancam kehidupannya maka ia akan membela dirinya habis-habisan demi mempertahankan kehidupannya. karena mati akan menghilangkan kenikmatan dunia menuju kenikmatan/siksa di alam yang jelas-jelas akan beda. ‘mati’ akan merenggut cita cita dan membunuh semua karir yang di gelutinya

Rute perjalanan kehidupan ini hanya terdiri dari dua alur, lahir dan mati, kelahiran menuju alam yang satu dan kematian menuju alam berikutnya, pada saat di alam berikutnya seolah ia  dilahirkan kembali di sebuah alam yang berbeda dengan alam sebelumnya, betah atau tidah betah manusia tak mungkin kembali ke alam sebelumnya. Jika demikian kenyataannya nanti tentu perlu persiapan untuk menghadapi kengerian ini. Apa yang perlu disipakan dalam hidup ini adalah menjemput kematian yang telah pasti, yang akan mengantarkan kita semua ke alam berikutnya. Oleh karenanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa rumah masa depan dalam tanda kutip adalahalam kubur dan alam-alam selanjutnya. Modal utama untuk alam berikutnya yaitu taqwa.


وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal" ( QS. al Baqarah: 197)

Tak seorang pun bisa melepaskan dirinya dari fenomena kematian, kematian akan datang tak kenal jenis kelamin, waktu, dan kepada siapapun. Semua telah jelas dalam ketentuan sang pemilik kehidupan abadi yak Allah ilahi rabbi. Setelah kematian itu datang tak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan dengan bertaubat, juga tidak ada kesempatan lagi untuk menambah bekal untuk perjalanan jauhnya menuju akhirat. Setelah itu hanya bermuara pada kediaman abadi yakni surga dan neraka 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (ali Imran: 185)

Jika kita pandai merenung, maka ayat tersebut akan menjadi pedoman dalam hidup untuk menentukan arah masa depan hakiki dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk pentas kehidupan abadi nan sejati. Yakni kehidupan setelah kehidupan di dunia ini. Di sana tersedia kenikmatan yang orisinil, tidak pernah dicicipi oleh hidupa didunia semewah apapun, jangankan dinikmati membayangkannya pun tidak mungkin bisa. Kenikmatan di alam ‘sana’ bersifat hakiki lain halnya dengan kenikmatan di dunia yang serba imitasi dan membosankan, kenikmatan dunia hanya bersifat sementara, sebab itulah Allah berfirman bahwa kehidupan akhirat lebih baik diutamakan dari pada kehidupan duniwi.

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64). 
Namun perlu diingat bahwa gebyar keindahan di dunia ini dibuat sedemikian rupa untuk menguji siapakah yang paling baik dan ikhlas amal perbuatannya, barang siapa yang lulus dalam ujian kehidupan duniawi dan selalu fokus akan kehidupan masa depannya sungguh ia termasuk orang yang sangat beruntung. Sayangnya ketertarikan pada duniawi melalaikan kehidupan akhirat, kehidupan tidak fokus dan cenderung terbawa arus kehidupan dunia. Nabi saw : “Andai saja engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (Mutafaq ‘Alaih).

Apabila ada manusia yang disuruh untuk mencicipi manisnya kehidupan akhirat satu cecapan saja, maka ia akan lupa akan sengsaranya di dunia, walaupan pada saat di dunia ia miskin papa sepanjang hidupnya. Begitu juga sebaliknya apabila ada orang yang selama hidupnya berbahagia, bergelimang harta, penghargaan sosial, jabatan atau kedudukan sepanjang hidupnya, ketika disentuhkan sekali sentuhan kepada adzab Allah sesudah kematian, maka ia akan lupa atas kemewahan dan sekusksesan dunia meskipun puluham tahun lamanya.

Mumpung masih belum terlambat, selama nafas dikandung badan, maka terus meneruslah utnuk bertaubat kepada Allah, taubat nasuha dalam arti penyesalan yang mendalam diikuti dengan tidak melaksanaka dosa-dosa yang serupa maupun tidak serupa. Bagi hamba Allah yang shaleh, kematian adalah menuju pintu kebahagiaan, kematian adalah pintu menuju kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kemewahannya. Sebalinya bagi orang yang berlumuran dosa maka kematian menjadi pintu pertama yang dilalui untuk menghadapi pedihnya siksa.

Kematian hadir kapanpun datang, hal ini harus di antisipasi sejak dini dengan perbanyak amal kebaikan dalam rangka menyongsong kematian yang pasti akan dantang kapan jua.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

4.25.2013

Kartini seperti yang dicita-citakan Kartini

Sudah berlalu Hari Kartini, 21 April.
Bercermin dari hari Kartini, yang merupakan tonggak bersejarah bagi Perempuan Indonesia, dimana emansipasi yang sebelumnya tenggelam menjadi timbul berkat seorang wanita bernama Kartini.


Sejarah diperingatinya Hari Kartini adalah setelah ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan hari lahrinya diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kita kenal dengan Hari Kartini.

Kartini sangat tertarik pada kemajuan berpikir perempuan-perempuan di Eropa hingga timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang pada saat itu berada pada status sosial yang rendah. Surat-surat Kartini sebagai hasil korespondennya dengan beberapa rekan sahabatnya di Eropa kemudian dijadikan sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Sekarang telah banyak lahir Kartini-kartini yang baru.
Apa yang dicita-citakan Kartini kini telah terwujud, bahkan mungkin Kartini yang sekarang banyak yang telah menyimpang dari apa yang dicita-citakan oleh Kartini sebenarnya.
Perempuan kini bukan hanya minta disamakan dengan laki-laki dalam berbagai hal, bahkan sangat banyak perempuan yang merasa lebih hebat dari pada laki-laki, tak jarang melupakan kodratnya sebagai perempuan.

Kembalilah menjadi Kartini seperti yang dicita-citakan Kartini.

10.19.2012

Cara Menahan Marah

Terinsipirasi dari status 'adikku' malam ini,
semoga bisa meredam amarahmu, ya sayang.....


Dengan tulisan ini saya kembali menulis tentang amarah, karena saya sering melihat orang-orang saat ini sering kali gampang terpancing oleh emosi karena hal-hal yang kecil.

Tetapi saat ini saya coba membahas bagaimana cara menahan amarah menurut ajaran Islam. Saya sempat membaca beberapa hadist menahan amarah, rasulullah berwasiat "jangan menjadi pemarah" .

Dalam hal tersebut mengandung kemungkinan arti melakukan menahan dengan sekuat tenaga menyebabkan terjadi kemarahan, sehingga kita terhindar dari efek-efek negatif dari marah dan sifat mudah marah.

Dalam hal lain, Rasulullah  memberikan nasihat tentang cara-cara menghilangkan dan cara menghindarkan efek yang tidak diinginkan dari marah dengan beberapa cara sebagai berikut.

Pertama ketika kita marah kita dianjurkan membcaa ta'awuz. Al imam AL Bukhari dan Al imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadist dari sulaiman bin surod Radliyallahu'anhu : " Ada dua orang tercela di sisi nabi dan kamu sedang duduk di samping beliau. Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka nabi bersabda " Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan menghilang apa yang ada padanya, yaitu dia mengucapkan `Audzubillahi minasy Sayithani rajim` maka mereka berkata kepada yang marah tadi.

Cara kedua yang diajarkan oleh nabi, apabila dengan Ta'awudz kemarahan belum hilang maka kita disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri.
Al Imam, Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan hadist dari Abu Dzar bahwa nabi bersabda "Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah" hal ini mungkin menurut pandangan saya, jika kita dalam posisi berdiri kemungkinan melakukan hal negative lebih besar, dan penguasaan diri jika kita berdiri. Maka akan lebih baik jika mengikuti nasihat nabi untuk duduk ataupun berbaring jika kita dalam keadaan marah. Insya Allah akan dapat menghilangkan amarah kita.

Ketiga, ketika kita marah kita diminta untuk diam tidak berbiara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk mengjilangkan penyakit kemarahan, karena banyak bicara dalam keaadn marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaran yang kurang baik atau pun tercela, dalam hadist disebutkan "Apabila diantara kalian marah ma adiamlah" Nabi mengucapan tiga kali (HR Ahmad)

Cara keempat adalah dengan cara berwudhu ataupun mandi, sesungguhnya marah itu adalah dari setan, dan setan itu tercipta dari api mka api bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bisa diredam dengan berwudhu. Rasulullah bersabda " sesungguhnya marah itu dari syaithan itu diciptakan dari api, dan api itu diredam dengan air maka diantara kalian marah berwudlu-lah (HR Ahmad)
Jadi sekali lagi saya hanya mencoba mengingatkan sahabat-sahabatku sekalian bahwa amarah tidak lah mempunyai bermanfaat, apalagi bila kita sampai tidak bisa mengontrol diri, yang kemungkinan hal terburuklah yang akan terjadi dan akan berujung dengan penyesalan. Dengan ini saya mengajak sahabat-sahabat untuk dapaat lebih sabar dan tidak mudah marah.

Dalam segi medis juga marah kurang bermanfaat, dan akan banyak menyebabkan penyakit, mungkin serangan jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit lainya. Mari kita ciptakan lingkungan yang bersahabat, damai, penuh cinta dan kasih. Dengan demikian kehidupan kita akan menjadi lebih baik. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk sahabat-sahabat semua dan untuk diri saya sendiri yang terkadang masih tidak bisa menahan rasa amarah yang ada.

9.26.2012

Bangkit dan Tetap Semangat

Hidup sampai tua.
Belajar juga demikian.
Jangan berlarut dalam hal yang sudah berlalu.
Bangkit dan tetap semangat.
Masih banyak waktu dan kesempatan.
Tetap optimis.
Hidup ini sangat singkat, tak terasa puluhan tahun berlalu begitu saja.

Aku merasa banyak makna dalam kata-kata di atas.
Untukku.



Thanks, koko... :)

posted from Bloggeroid

9.24.2012

KickAndyShow: Mencari Ibu

Semoga teman-teman tidak bosan membaca tulisanku tentang Ibu.

Karena  bicara tentang Ibu takkan pernah habis, takkan pernah usai sampai kapan pun.

Jumat malam aku membaca topik Kick Andy Show di twitter. Dari judulnya, Mencari Ibu kandung selama puluhan tahun. Aku sudah sangat tertarik karena ingin melihat kisah mereka yang senasib denganku.
Tetapi jadwal Jumat malam itu tidak berhasil aku tonton, karena Ahmad sudah merengek-rengek minta ke kamar.
Akhirnya aku menyaksikan tayangan ulangnya pada Minggu sore.

Ada beberapa kisah.
Mulai seorang Ibu berumur 54 tahun, seorang gadis berumur 19 tahun yang dijual oleh Ibu kandungnya,  ada pula seorang gadis yang sejak 5 hari diangkat oleh keluarga asing di Belanda, dan ada seorang pemuda 30 tahun yang rela bersepeda dari Jawa Timur menuju lampung hanya untuk mencari Ibunya.

Semua pengalaman mereka mencari seorang wanita yang bernama Ibu. Perjuangan mereka begitu luar biasa. Sangat jauh luar biasa dari diriku. Dan sedihnya tidak semua perjuangan mereka membuahkan hasil, beberapa diantara mereka masih belum menemukan Ibu yang melahirkannya.

Siapa pun orangnya, siapa pun anaknya, pasti akan mencari Ibunya.
Suatu saat, cepat atau lambat.
Perasaan yang bercampur aduk ketika mengetahui dan menyadari Ibu tempat bersandar selama ini bukanlah Ibu yang melahirkan.
Sebuah tanda tanya besar, mencari jati dan asal diri ada pada tiap manusia. Terlebih pada anak angkat.
Siapa saya? Siapa keluarga saya? Di mana mereka?

Mungkin, tidak seorang pun anak angkat yang ingin dipisahkan dari Ibu kandungnya.
Andai kami, anak-anak angkat bisa memilih, di saat kami dilahirkan.
Pilihan utama kami pasti berada dalam dekapan hangat Ibu yang rahimnya kami tempati selama sembilan bulan.
Ibu yang bersusah payah penuh perjuangan melahirkan kami.
Ibu yang tangannya ingin selalu kami genggam.
Ibu yang ingin selalu kami tatap ketika kami  disusui dalam pelukannya.
Ibu yang hampir tiap waktu kami menangis, mengadu kepadanya atas apa yang tidak bisa kami uangkapkan sebagi seorang bayi.

Tapi Yang Kuasa punya kehendak lain.
Adalah hal yang tidak kita ketahui, tapi terjadi atas kehendak-Nya dan itu pasti yang terbaik untuk kita.
Aku, dan semua anak angkat di dunia ini tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi ketika kami bayi.
Tiap jalan hidup pasti ada hikmahnya.

Ada satu benang merah dari nonton Kick Andy Show, sore itu.
Bersyukur.
Banyak bersyukur atas apa yang Allah berikan untukku.
Tak terbayang jika aku adalah mereka, yang merindu Ibu tak berujung.
Yang hidupnya hitam putih mencari seorang Ibu.
Yang tak peduli berapa jalan yang harus dia tempuh untuk memeluk Ibu.
yang rela bertemu Ibu walau hanya bisa melihat pusaranya saja.

Teman-teman yang masih memiliki Ibu,
Ibu yang masih bisa berbicara, menasehati langsung atau hanya diujung telepon.
Sayangilah Ibu kita, berbicara santunlah kepadanya.
Karena Ibu kita ada.
Karena Ibu kita bisa melihat dan menikmati indahnya dunia.
Jangan tunggu besok lusa,
Karena kita tidak tahu sampai kapan, kita dan dia, ada dan tiada.

9.05.2012

Kak Nurbaiti

Namanya Nurbaiti
umurnya sekarang lima puluh lebih
aku gak ingat, lebihnya berapa.



kakak ini tuna wicara.
dulu, menjadi tetangga kami di dabo, waktu beliau masih tinggal di setajam.
terakhir aku ketemu sebelum ini, tahun 2008.
kondisinya sama, saat lebaran kak ibet, demikian panggilannya, datang ke rumah dengan berjalan kaki.

2012 beliau datang ke rumah lagi, masih seperti dulu, dan masih sumringah lebar ketika melihat aku.

Banyak pelajaran yang aku petik dari kedatangan beliau.
Sosok yang tegar, hidup sebatang kara dengan kekurangannya, tidak punya siapa-siapa, tapi Subhanallah, selalu ceria, selalu berbinar, selalu indah ketika melihat raut wajahnya.

Allah maha mengetahui, rejeki pasti ada pada tiap-tiap kita, tinggal kita yang berusaha menjemputnya.
Seperti kk yang satu ini. Beliau mengambil upah menjahit, dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sampai sekarang.

Kalau beliau, yang tidak bisa berbicara, bisa berusaha untuk mencari makan, mencari uang, apalagi kita yang sehat walafiat, normal, dan punya fasilitas yang lebih..

Banyak bersyukur, melihat keadaan di sekitar.
Mataku mengiringi kakinya berjalan meninggalkan rumah kami sore itu.
Ingat kakakku, yang dulu ketika masih hidup berteman baik dengan beliau.
Semoga Allah permudah ikhtiarnya, melimpahkan rejeki dan kebahagiaan selamanya kepada Kak Nurbaiti..
Amin..

2.11.2012

Konflik

Siapa yang tidak pernah mengalami konflik dalam rumah tangga?
Pengantin baru?
Mungkin iya..

Kami yang sudah enam tahun menikah? Bohong kalau belum pernah ada konflik..
Bahkan tidak tau ini konflik yang keberapa, dan setiap konflik ada yang permasalahannya sama, itu2 saja, bahkan kadang berbeda.
Menyikapinya pun tidak sama, dulu waktu baru menikah betapa suami begitu mengalah, dan sekarang perlahan2 mulai nampak bagaimana egoisnya laki-laki (seperti yang sering diumbar org).
:(

Setiap konflik membuat aku semakin menyadari bahwa sebagai  perempuan harus kuat.
Harus tabah.
Ada anak2 yang butuh ibunya..
Ada kondisi dimana kita harus berpikir jernih, bukan menempatkan perasaan semata ketika marah, kesal atau kecewa..

Sensitifitas Ibu Rumah Tangga mungkin berbeda dengan wanita karir,
Karena IRT lebih sering di rumah, menunggu dan menantikan suami pulang kerja setiap hari dengan rasa cinta, cemas, bercampur aduk. Sementara wanita karir, selain menunggu suami punya dunia lain yang membuat mereka bisa melupakan sejenak kelelahan dalam mengurus rumah tangga..
Berbeda dengan IRT yang kesehariannya bergelut dengan pekerjaan dapur dan anak-anak dengan polah tingkah yang beraneka ragam, kadang menggelikan, kadang juga butuh kesabaran dalam hal mengarahkan prilaku anak2 ke jalan yang benar..

Intinya bukan konflik hari ini.
Intinya bagaimana aku bisa mengoreksi diriku.
Dan sebaliknya.

Aku mencintai suamiku, anak2ku, keluargaku.
Ingin aku bisa menjadi istri yang seperti diingini suamiku,
menjadi ibu seperti yang diingini anak2ku..

:)





1.01.2011

Awal 2011

Akhirnya dentuman pesta kembang api mulai surut.
Sedari tadi, kebisingan itu bukan saja mendera aku, anak-anak dan suamiku, tapi juga bagi semua yang merasa terganggu dan tidak bisa berbuat apa.
Seperti Bang Yusnan Ansari yang menulis di wall facebook-nya.

"Malam ini entah berapa banyak uang yang dibakar dan juga manfaatnya tidak ada"



Betullah itu. Kalau saja jumlahnya dibelikan ke beras dan di sedekahkan kepada yang kurang mampu, sudah begitu banyak mereka terbantu. Ah, entahlah. Entah karena malam ini adalah pergantian tahun, yang ditunggu tiap tahun, dan moment yang paling tepat untuk mewarnai langit ciptaan Allah ini..
Yang jelas, aku termasuk salah satu pendukung pernyataan beliau..

2011.
Sudah berubahlah angka yang harus kita tulis setiap membuat penanggalan, di awal-awal biasanya sering terjadi kesalahan, karena perasaan masih saja ingin membuat angka sepuluh.
Bagi yang kecil, berarti pegantian tahun masehi ini akan membuat hitungan menjadi besar, dan bagi yang sudah besar angka 2011 akan membuat kita semakin matang, karena umur bertambah, seharusnya sejalan dengan kedewasaan pula. Bagi yang belum bertaubat, segeralah karena sisa umur semakin berkurang dan masa bumi juga semakin mendekati kepunahan. 
Hanya harapan, semoga kita, keluarga kita, orang tua kita, sahabat para handai taulan, dan bangsa kita mendapat perlindungan, negara kita aman, terutama lepas dari bencana..
Tak pelu percaya ramalan, mari kita bermunajat kepada Allah untuk segala kebaikan..



11.24.2010

Deal???

Libur tidur siang..

Entahlah aku tiba-tiba menjadi bingung menentukan sikap. Hanya karena waktu yang membuat aku tidak sabar menunggu, kapan bisa bebas dan lebih tenang.
Aku tau kalau aku mengatakan iya berarti aku mungkin akan kembali menjalani hari seperti dulu, dan bukan tak nyaman, tapi itu sama saja aku mematikan kebahagiaan yg sudah aku betik beberapa bulan belakangan ini..

Dari diskusi, alasan keislaman dan keluargalah yang membuat aku merasa cenderung yakin dengan kesepakatan ini. Hari-hari yang terasa lebih baik, tidak ingin terusik lagi dengan hal buruk di luar sana seperti yg pernah aku alami dulu..
Aku mencintai Islam, suami, dan anak-anakku...

Mudah-mudahan hati menjadi lebih mantap, ingin segera istikharah, mohon petunjuk Yang di Atas untuk keputusan finalnya...

10.28.2010

Ibu Itu Pembohong

*Jika yang lain share di FB, mohon maaf Mas Vicky Robiyanto Dua , saya minta ijin share lewat blog saya...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
 Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.

PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ""Makanlah nak ibu tak lapar."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA
.Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : "Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibuterus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : "Minumlah nak, ibu tak haus!!"

PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu. Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : "Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : "Jangan susah-susah, ibu ada uang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; "Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : "Jangan menangis nak, ibu tak sakit."

 Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali.

Anda beruntung karena masih mempunyai ibu dan ayah. Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau ibu anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, 'Ibu,saya sayang ibu.' Tapi tidak saya, hinggakini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

 Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu.....

10.27.2010

Peringatan Allah melalui Bencana

Bencana Meletusnya Merapi dan Tsunami di Mentawai adalah peringatan, bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas alam ini..
Ratusan nyawa bisa diambil-Nya hanya dalam sekejap mata..
Kupandangi sudut kamarku tadi, kubayangkan berapa meter tinggi rumah kami. Dan entah bagaimana rasnya bila dihentam air laut setinggi tujuh meter??
Ah, pasti tidak ingin membayangkannya, mereka pun, para korban demikian..
Hanya berbuat baik sajalah yang bisa kita lakukan disisa umur. Setiap kali musibah, itu adalah cermin besar bagi kita, bahwa kita bukanlah apa-apa, dibandingkan dengna alam semesta. Lambat laun kita juga akan menghadap-Nya, tentunya kita berharap mati dl keadaan khusnul khatimah..
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, mengampuni dosa bangsa ini, dan menjauhkan kita dari bencana. Amin...

7.01.2010

Koreksi Diri

Aku bukan orang yang pandai menulis. Aku hanya orang yang menulis apa yg ingin kutulis. Aku suka bicara lewat tulisan, karena tulisan bisa mengekspresikan segalanya..
Kemarin aku mendapat berita duka, suami Meni, teman kantor lamaku telah menghadap-Nya secara mendadak. Serangan jantung, atau istilah kampung angin duduk, itu informasi penyebab kepergiannya. Dari cerita Meni, suaminya baru sekitar 5 menit sampai di rumah setelah pulang memotong ayam subuh kemarin, kemudian mengeluh dadanya sakit dan dalam waktu sekejap dia sudah kesulitan dan tak tertolong lagi ketika dibawa ke rumah sakit...
Umurnya masih muda, kalau aku tidak salah sekitar 32-33 tahun. Sebelumnya tidak pernah ada keluhan sakit di bagian dada. Dan terakhir aku bertemu dengannya ketika dia mengantarkan mobil rental ke rumah kami beberapa minggu yang lalu.
Kini hanya doa yang bisa kami berikan, semoga Arwahnya mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT.
Atas kejadian ini, rasanya kita ini sudah sering diingatkan Allah, bahwa nyawa ini dapat diambil-Nya setiap saat, dalam waktu yang tak pernah bisa kita hitung secara pasti. Ada yang pergi karena sakit, kecelakaan, atau apalah penyebab di mata manusia, tapi sebenarnya itu sudah ketentuan dari-Nya.
Memang sudah sepantasnyalah bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup ini, untuk lebih ingat dengan mati, dan memperbanyak amal ibadah. Sebab jika kita sudah bertemu dengan malaikat maut kelak, tertutuplah segala pintu taubat..
*Semoga kita mampu menjadi manusia yang lebih baik, dimata Allah SWT...

12.02.2009

Siapkah Kita jika Dia datang??

Mata sempat tidak bisa diajak kompromi sekitar setengah jam yang lalu. Dahyat bangets, 10.30 AM sudah ngantuk berat. Padahal, mau dibilang bergadang tidak juga.
Friends, mengapa ya kita jarang mensyukuri keadaan kita yang sehat walfiat, tubuh yang sempurna. Padahal kesehatan itu adalah kenikmatan hidup yang tiada tara. Cobalah kalau kita sakit, bukan hanya tidak nyaman, tapi kadang tak sedikit juga biaya yang kita keluarkan untuk bayar dokter, berobat...
Adalah cerita Hubby yang membuat aku merinding. Jumat malam pekan lalu, salah seorang orang tua laki-laki siswa menghadap Yang Kuasa. Sebelumnya Alm. tidak pernah terdiagnosa menderita suatu penyakit apapun, dengan kata lain dia tergolong seorang yang dipandang dari luar sehat walafiat.
Hanya saja sekitar seminggu sebelum berpulang ke Rahmatullah, Alm. pernah mengeluh sakit kepala dan setelah diperiksa menurut dokter beliau hanya kelelahan.
Entah bagaimana, singkat cerita pada malam kejadian Alm. mengeluhkan kembali sakit di kepala dan disertai kejang-kejang. Dalam cerita Hubby itu, Alm, memang punya kebiasaan menggoyangkan kedua kakinya sebelum tidur, dan pada malam saat menderita kesakitan yang luar biasa, kedua kaki itu bergoyang sangat kencang, bahkan mungkin teramat kencang.
Alm. meminta anaknya untuk lebih cepat menggoyangkan kakinya, "Onya (panggilan anaknya), cepat goyangkan kaki Papa lagi, Nak. nanti dia tidak bisa bergoyang lagi.."
Sang anak ketakutan, bingung, karena kesua kaki ayahndanya sudah bergoyang begitu kencang, bagaimana mungkin ayahnya minta digoyangkan lagi.
Pada saat itu ayahnya juga berteriak, "Dia datang...., dia datang.., Ya Allah jangan sekarang Ya Allah, jangan sekarang. Dia belum siap untuk ditinggalkan.."
Allahu Akbar, Dia Maha berkehendak. meski teriakan itu berkali-kali diucapkan.
Malam itu adalah malam terakhirnya.
Friends, sosok Alm. terkenal baik, rajin ke Masjid. Semoga Alm. diterima disisi Allah SWT.

Yang aku ambil hikmah dari cerita ini, ada suatu benang merah, bahwa kematian itu akan datang, dan pasti datang. Cepat atau lambat. Bertaubatlah bagi kita yang merasa masih belum menjadi hamba yang bertaqwa. Bukankah kadang kita melalaikan ibadah sholat (apalagi jika kita sampai tidak mendirikan sholat, dan kita jarang menganggap sholat sebagai suatu kebutuhan, bukan kewajiban), kadang kita masih sering menggunjing, berkata kasar kepada orang tua, berselisih paham antara suami istri. Istighfar, karena jika malaikat pencabut nyawa sudah datang, dia tak peduli apakah kita sudah 'siap' atau belum.
Bagi para muslimah, segeralah menutup aurat jika selama ini belum. Jangan menunggu kata 'siap' untuk itu, atau menunggu bisikan hati. Karena sesungguhnya dengan menunggu bisikan hati itujustru kita telah mengikuti bisikan syaitan. Jangan dicontoh pada selebritis yang wara-wiri di TV dengan pakaian seadanya (yang lagi ngetrend saat ini), atau menurut Dymsi seperti ini: "Gak sopan kakak yang di TV itu ya Bun, nampak micu-micunya..."(sambil menurunkan posisi baju kaosnya). Banyak hal dari diri kita yang perlu dijaga, dan kita belum melaksanakannya dengan sempurna.

Semoga kita menjadi hamba yang diampuni oleh Allah SWT. Mari kita bersama-sama 'mengislam'kan diri kita, sehingga ketika saat itu tiba, kita tidak menjadi manusia yang merugi.

11.17.2009

L L L


Hari ini terasa lemah, lelah. Letih.
Entahlah, apa tubuhku belum 100% fit setelah sakit selama seminggu.
Dua hari ini Hubby terlambat ke sekolah, dan semua karena aku bekerja lamban. Padahal sebelum sakit aku bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dan mempersiapkan anak-anak sebelum berangkat, tapi hari ini ketika ditinggalkan rumah kami dalam keadaan sangat berantakan. Bukan seperti kapal pecah saja, tapi seperti kapal pecah dan karam.
Ada pembicaraan hangat tadi malam sampai kami tidur sangat larut malam, bahkan mungkin lebih tepatnya jam 2 dini hari. Sepanjang perjalanan pagi tadi, di atas motor roda 2 kami yang butut, aku berpikir tentang kemungkinan untuk lebih mandiri.
Semoga ada titik cerah, atau petunjuk atau apalah untuk kehidupan ini yang aku rasa tidak mungkin bila setiap hari seperti ini. Mampu pun aku, tapi badan begitu letih, dan kehidupan ini terasa abnormal.
Bukan mengeluh, bukan tidak bersyukur atas apa yang telah Allah anugrahkan. Hanya berusaha mencari jalan yang lebih baik dari ini.
Teringat sebuah cerita, dan ini didapatkan Hubbyku dari milis KGI.
Seorang anak yang hampir setiap hari ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Sampai suatu saat anak itu bertanya kepada ayahnya, "Berapa gaji ayah sehari?" Dan Ayahnya menjawab pertanyaan sang anak tanpa menyadari maksud dan pikiran polosnya.
Anak itu bukan anak yang kekurangan, dari segi materi orang tuanya bisa memberikan semuanya, tapi sang anak butuh sesuatu yang lebih berharga, yaitu 'Waktu'.
Sang anak kemudian giat menabung hingga terkumpullah sejumlah uang dan ditemuinya kembali sang ayah.
Anak itu berkata, "Ayah, maukah Ayah menemani aku beberapa hari saja? Aku punya uang segini, cukup untuk menggantikan gaji Ayah beberapa hari."
Subhanallah, anak tersebut menabung hanya untuk 'membayar' waktu Ayahnya yang tidak pernah ada untuknya. Bagaimana perasaan kita sebagai orang tua jika anak kita berpikir harus 'menggaji' kita untuk mendapatkan waktu kita bersamanya? Apakah prinsip atau istilah "Time is Money" itu benar adanya?
Kita ini lucu, sering berdalih bahwa kita bekerja seharian untuk anak-anak, padahal sebenarnya yang kita lakukan adalah menerlantarkan mereka dengan sibuk menitipnya kepada orang tua, saudara, tetangga, pembantu, baby sitter, atau siapa sajalah yang bisa mengasuh anak-anak selama kita bekerja.
Waktu yang kita miliki adalah hak anak-anak kita, mampukah kita memberikan hak mereka dengan sempurna?
Aku tidak sedang membicarakan orang lain, aku membicarakan kami, diriku sendiri, yang egois, yang tega 'lelah di kantor' dibanding 'lelah di rumah' dengan alasan mencari uang untuk anak-anak.
Padahal aku sendiri juga capek, teramat sangat!!
Kami perlu berubah, karena memang ada banyak hal yang mesti diubah.
Semoga ada titik cerah, karena sesungguhnya Allha maha Sayang kepada hamba-hambanya. Tentus aja diiringi dengan usaha dan berdoa.

3.18.2009

"Ayah, kembalikan tangan Dita...."

Ini aku kopas dari blog Hubby, ceritanya bagus, semakin banyak yang baca, mungkin akan semakin bermanfaat. Dari postingan Pak Yusuf Mansur di milis KGI.

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja.. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun.. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” ….

Pembantu yang terkejut dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ….kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?…. Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.


3.08.2009

Setelah sholat Malam

03:00 AM
Sudah lama aku tidak melakukannya. Sholat Malam.
Hari ini aku merasakan kenikmatannya kembali. Merasakan betapa aku sudah sombong sebagai seorang hamba, yang selalu membutuhkan pertolongan Allah SWT,namun sering lupa memohon, bermunajat, padahal hanya Dialah yang Maha segalanya. Merasakan betapa aku bodoh tidak mengadu kepada-Nya ditengah keheningan atas segala kesulitan dan cobaan yang kami hadapi, padahal Dia Maha Mendengar dan Maha tahu, serta Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya.
I'm looking for our sweet child, Dymsi yang sedang tidur lelap. Diantara semua boneka-boneka yang berserakan di tempat tidur kami, hanya boneka 'tinky winky' yang paling dia sukai. Jujur saja itu bukan boneka mahal. Boneka kain, yang kini sudah usang dan tidak 'bermata'. Btw, Dymsi sangat menyayanginya. Alhamdulillah, baru aku sadari bahwa anak kami ini adalah seorang yang sederhana. Tidak menuntut sesuatu yang mahal-mahal, sebagaimana susunya yang telah berubah dari Chil Mil menjadi Frisian Flag.
Maafkan Bunda, Nak. Jika Bunda terkadang masih sering kesal dengan kenakalan Dymsi yang seharusnya adalah kebahagiaan bagi Bunda, karena itu adalah proses Dymsi untuk mengenal kehidupan ini sepeerti apa sesungguhnya.
Lalu aku teringat Hubby pada doa usai sholat malamku. Suami yang lebih dari tiga tahun mendampingi aku, suami yang berumur 2 tahun lebih tua dari aku, suami yang benar-benar aku cintai atas segala kelebihan dan kekurangannya. Suami yang malam ini sedang tidak bersamaku, -dalam rangka acara Mabit yang diselenggarakan sekolahnya. Suami yang bekerja dan sering pulang malam untuk menafkahi kami berdua.
Sebelum menulis di notepad ini, aku sudah menggores catatan kecil pada Diary lama kami, yang ditulis pertama kali pada hari ulang tahunku yang ke-26. Tulisan pertama adalah dari Hubby, tapi lembarannya sudah koyak dimainkan Dymsi. Ada tulisan kedua yang aku tulis sendiri.

"Dear: Abang.
Tidak salah jika abang berpikir akan membuat mata yk (singkatan nama kecilku, Dayank) berkaca-kaca malam ini. Makasih ya Abang, untuk kejutan kecilnya. Yk tau Ab cemas kalau-kalau Ab bukan menjadi orang pertama yang mengucapkan Happy Birthday to Me.
Ada perasaan atau tepatnya berbagai perasaan dalam hati Yk. Perasaan senang, karena hari ini adalah ulang tahun pertama dalam keadaan hamil, yang pertama setelah menikah dg Ab. Bahagia karena Yk punya ab, suami Yk, (semoga) satu-satunya. Bahagia karena Yk mencintai dan dicintai Ab. Terharu, sebab malam ini - ketika surprise itu Yk terima Ab tidak berada disisi Yk. Ab sedang bekerja untuk kita dan Imcy (panggilan untuk Dymsi dimasa aku hamil)..........
Sedih, karena sampai umur 26 tahun pun Yk belum diberikan kesempatan untuk bertemu dengan perempuan yang mengandung dan melahirkan Yk. Entah bagaiman beliau mual - muntah, sakit pinggang ketika Yk berada dalam kandungannya, seperti apa yang Yk rasakan saat ini......
Tapi bagaimanapun itu semua adalah bagian dari masa lalu. Yang terpenting sekarang Yk punya Ab, satu-satunya suami yang Yk cintai. Semoga Ab juga begitu, tidak pernah tinggalkan Yk kecuali semua terjadi atas kehendak Allah SWT.
I love you, Ab. Semoga kita diberikan kesehatan oleh Allah SWT, semoga buah hati kita lahir dengan selamat, sehat lahir dan batin & semoga kita mampu mendidiknya menjadi anak yang sholeh / sholehah.
Sekali lagi makasih buat semuanya ya, Ab..
I love U (banget, dah)
20 Mei 2006."

Waktu itu Hubby masih bekerja sebagai karyawan pracetak di koran Riau Pos, yang jam kerjanya jam 8 malam - 4 pagi. Sekitar hampir jam 12 menjelang hari ulang tahunku, tiba-tiba ada suara, deringan lagu happy birthday di dalam lemari kami, di kamar lantai 2 rumah Ibu tempat kami tidur. Rupanya ada hp Yati dan sebuah Diary yang berisi tulisan Hubby. Hp Yati yang sudah disetting lagu happy birthday sebagai nada dering. Sesaat kemudian Hubby menelponku dari tempat dia bekerja.
Surprise tak mesti mahal. Ulang tahun tak mesti kado.
Aku sayang mereka berdua.

2.13.2009

Bulan 'cobaan'

Hello, semua.....
Bulan Februari ini adalah bulan yang penuh dengan cobaan buat kami. Mulai awal bulan, sampai hari ini cobaan itu masih ada dan belum terselesaikan. Cobaan awal bulan tidak usahlah aku ceritakan, karena itu adalah masalah yang harus kami berdua atasi, yang jelas itu bukan masalah hubungan kami, karena sesungguhnya kami berdua fine-fine aja, alias akur. Apalagi dengan kondisi hamil ke-2 ini, tentu kami sangat berbahagia.....
Cobaan yang sekarng kami hadapi adalah masalah listrik. Akhirnya kami harus menarik kabel sendiri ke depan, karena permasalahan daya yang tidak cukup dari Bapak pemberi arus, dan itu berdampak tidak enak dengan Kak Neng, tempat kami menarik kabel semula. Sepertinya kami diisyaratkan untuk pindah dari rumah Bp. pemberi arus dan mengharuskan kami mencari alternatif arus yang lain.... Masalah ini bikin lemes kami, karena kondisi keuangan kami sekarang kurang baik, untuk kabel dkk tentu belum ada alokasinya...
Belum final mau ambil di mana, dan bisa kena berapa, yang jelas bagi kami tentu itu adalah hal yang berat dan tidak bisa dihindarkan lagi. Kalau memilih alternatif genset, sepertinya agak berat karena pertama genset tidak bisa hidup terlalu lama, kedua kulkas dan mesin cuci tidak bisa digunakan sama sekali walau cuma sebentar. Ribet, memang... Doakan ya, semoga dapat jalan keluar terbaik. Buat teman-teman yang mau ambil perumahan, memang sebaiknya tunggu listrik masuk dulu baru pindah. Jangan seperti kamilah, walau sudah ada travo dan tiang serta kabel yang diinstalasi di masing-masing rumah (dalam artian hanya menunggu meteran saja), buktinya sampai sekarang bagaimana listriknya masih belum jelas........ Memang PLN itu bagai buah simalakama ya, banyak yang kecewa tapi bagaimanapun kita tetap saja butuh.......
Berita yang baiknya adalah aku mulai betah di kantor yang baru, walau AC-nya alami, tapi bos yang baru lebih berduit dibandingkan bos yang lama, maksudku keuangan di kantor sini lebih baik. Aku bekerja di sebuah showroom mobil, tapi pekerjaanku sama sekali tidak ada hubungannya dengan showroom. Bosku punya usaha lain, yaitu pengangkutan pasir, bese, dll-lah, sehingga pekerjaanku adah bagian pembukuan usaha sampingannya itu. Yang menyenangkan adalah bos disini lebih memfasilitasi aku, misalnya aku dapat ijin pakai laptop baru yang kemarin baru diresmikan. So, sekarang ini aku bisa mengetik jam berapa pun, tanpa terkendala listrik di rumah yang sering tidak mampu menghidupkan monitor. Jadilah, bisa bw pulang ke rumah dan Dymsi tentunya tidak akan kehilangan masa untuk menonton baba, upin ipin, main mario or whateverlah! Lumayan juga ada wi-finya, bisalah sesekali dibawa ke tempat gratisan.
Begitulah..., malam ini hubby tidur di sekolah, karena katanya banyak kerjaan untuk persiapan try out besok, biasalah promosi sekolahnya. Semoga berhasil ya, Hub! :) Oya jangan lupa doanya, sebelum tidur...
Jadilah kami tinggal berdua, Alhamdulillah aku sudah lebih tidak cengeng seperti dulu. Kalau ingat-ingat dulu aku belum 'dewasa', masih nguntil kemanapun hubby bermalam, pakai bawa-bawa Dymsi juga. Rasanya tidak enak kalau tidur disamping tidak ada Hubby, kejadian yang bikin aku malu juga kalau ingat sekarang adalah ketika aku mengotot pulang pada waktu malam setelah pesta Melly. Ih, kekanak-kanakan sekali. Forgive me, Mommy Labor.... Semoga aku bisa menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih sabar...

11.26.2008

4 things u cannot take it back

Ada pelajaran bagus disini.
Coba baca, dan renungkan. Semoga bisa memberikan manfaat.