Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg
Tampilkan postingan dengan label Tentang Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Ibu. Tampilkan semua postingan

11.26.2010

Ibu Kembali dari Ibadah Haji

Malam yang larut,

Puji syukur..
Alhamdulillah..

Ibu telah sampai kembali ke rumah, dengan sehat dan selamat..hari ini.
Rasa bahagia dan haru jelas terpancar, dan rumah seperti bersinar menyambut kedatangan ibu. Ada tetes air mata bahagia, berbeda dengan pelepasan sekitar empat puluh hari yang lalu.
Ibu kami kini telah menyandang gelar Hajjah. Diusia kepala enam.
Setiap dari kami yang bersalaman, berpelukan dengan Ibu, beliau membisikkan semoga kami kelak bisa segera menyusul ke tanah suci, semoga masing -masing kami kelak dapat menunaikan haji, menyempurnakan rukun islam..
Sudah terbayang.
Kalau sekarang kami mampu menyicil rumah dengan jumlah besar.
Seharusnya kami juga mampu menyicil, menabung untuk ibadah haji.

Satu kalimat ibu yang membuat aku merasa menangis membayangkannya..
Ketika akan berpisah, dengan ka'bah..
Rasanya begitu berat, karena perasaan cinta kepada tanah suci sudah begitu melekat..
Selama ini hanya melihat di TV, selama ini hanya mampu mengarahkan kiblat ke arah ka'bah..
Tapi kini hati ibu yang telah merasa satu dengan tanah suci.
Semoga Ibu sepulang ini, menjadi Hajjah yang mabrur, menjadi Ibu terbaik bagi kami, dan the best grandma bagi cucu-cucu beliau..

Ada pertanyaan yang seharusnya aku bisa jawab..
Kapan mamak mampu kami hajikan??

Maafkan ananda, Bunda..
Belum bisa menjadi anak yg baik, anak yg bisa membuat Bunda menjadi lebih sempurna di mata Allah..
Semoga, suatu saat nanti, Mamak mampu kami berangkatkan ke sana pula, Amin..

10.28.2010

Ibu Itu Pembohong

*Jika yang lain share di FB, mohon maaf Mas Vicky Robiyanto Dua , saya minta ijin share lewat blog saya...

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
 Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibu saya memang seorang pembohong!! Sepanjang ingatan saya sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi saya. Saya perlu catatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan anda sekalian.

PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ""Makanlah nak ibu tak lapar."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA
.Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.
Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat, pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : "Ibu, tidurlah, esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.
Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibuterus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebih kental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : "Minumlah nak, ibu tak haus!!"

PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.
Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu. Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : "Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang. Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : "Jangan susah-susah, ibu ada uang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.
Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama saya di luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; "Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang."

PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian saya kecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : "Jangan menangis nak, ibu tak sakit."

 Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali.

Anda beruntung karena masih mempunyai ibu dan ayah. Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau ibu anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, 'Ibu,saya sayang ibu.' Tapi tidak saya, hinggakini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

 Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu.....

12.22.2009

Selamat Hari Ibu


Happy Mother's Day.
Selamat Hari Ibu. Telah kuucapkan kalimat itu kepada Ibu dan Ibu Mertuaku tadi pagi, menjelang berangkat kerja. Dan diatas motor Dymsi juga telah mengucapkan hal yang sama kepadaku. Semoga Ibu, Ibu Mertua, dan aku sendiri serta seluruh Ibu-ibu di dunia merasakan bahagia, merasakan bahwa Wanita khususnya seorang Ibu begitu bermakna bagi suami dan anak-anaknya.
Bicara tentang Ibu, mengingatkan aku pada seorang Ibu yang belum pernah aku temui, belum pernah aku lihat bagaimana rupanya. Ibu yang mengandungku, yang rahimnya pernah aku tempati 9 bulan dan Ibu yang telah melahirkan aku. Ya, Ibu kandungku. Aku kembali merindukan kehadirannya hari ini.
Sebetulnya aku beruntung memiliki banyak Ibu. Tapi entah mengapa Ibu yang satu ini, sulit sekali untuk aku temui. Dan entah mengapa pula Ibuku yang ini tidak ingin menemuiku. Tidakkah dia cinta kepadaku lagi? Tidakkah dia merinduiku? Tidakkah dia ingin bertemu denganku? Tidakkah dia ingat bahwa dia pernah melahirkan aku???
Aku anaknya!! Walau keyakinan kami berbeda, tapi bukankah hubungan darah tidak bisa diputuskan begitu saja? Ibarat mencincang air, bagaimanapun tidak bisa.
Dan pada akhirnya, sampai detik ini aku hanya bisa merindukannya dalam tangis di dadaku. Ya, tangisan yang ada di dalam, dan hanya aku sendiri yang bisa merasakannya. Akan kucari, kukejar, kupeluk, kucium.., seandainya aku bisa melakukan itu semua.
Ibu, andai saja Ibu tahu. Aku ingin sekali bertemu denganmu. Jika Ibu tidak ingin menemuiku, aku rela melihat dari kejauhan, satu kali pun tak mengapa. Asal aku bisa melihat wajah Ibu. Ibu kandungku. Karena aku mencintaimu, Ibu.
Selamat Hari Ibu, buat Ibu-ibuku. Ibu kandung, Ibu Angkat, Ibu Mertua. Mereka adalah Ibu-ibuku yang sangat berarti bagiku. Semoga Ibu-ibuku selalu menjadi Ibu-ibu yang baik, sederhana dan selalu sayang kepada kami, anak-anaknya. Dan semoga aku bisa menjadi lebih baik, karena aku juga adalah seorang Ibu bagi anak-anakku.

3.20.2009

Ibu Bazar Perkedel Jagung

Aneh... aneh..,
Setiap kali sampai di kantor nih mata kumat ngantuknya, mungkin karena sudah kenyang makan begini, ya.
Hari ini Ibu Mertua alias Nenek Labor mengikuti bazar di kantor, sekalian dengan arisan. Nah, ceritanya kan Ibu berencana membuat Perkedel Jagung buat di jual di bazar nanti.
Perkedel jagung buatan Ibu enak, lho. Menurut lidahku belum ada yang seenak buatan Ibu. Kalau makan satu, bakal ketagihan, cuma aku belum sempat mencatat resepnya, apalagi membuatnya. Kapan-kapan kalau aku sudah tahu resepnya aku postingkan ya.
Yang bikin enak dan aromanya khas, adalah daun kemangi. Soal daun kemangi ini, kalau buat lalapan seperti yang sering disajikan kalau kita makan pecel lele, aku tidak suka. Tapi kalau sudah dicampurkan ke dalam perkedel.., wah mantap rasanya.