Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg
Tampilkan postingan dengan label my chinese family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my chinese family. Tampilkan semua postingan

2.20.2013

Happy Lunar New Year

Seminggu menjelang Imlek, nafsu makan saya down.
Mungkin karena saya merahasiakan rencana merayakan Imlek bersama Mama, koko dan cece.

Tahun ini Imlek terasa berbeda bagi saya, karena sebelumya saya hanya merayakan Idul fitri saja. Imlek adalah hal yang biasa, dan tidak ada perayaan atau perasaan suka cita seperti yang saya alami kemarin.
Berkumpul di malam tahun baru Imlek, pasti adalah saat yang sangat membahagiakan. Menikmati sajian khas, berebutan, bersenda gurau, semua adalah untuk pertama kali dan ingin ingin terulang kembali.
Semoga Allah selalu mencurahkan kesehatan dan rezeki kepada kami semua supaya bisa bersama-sama lagi.

Bersama mereka, hati saya seperti terlahir kembali. Andai dari dulu kami bersama, andai dari dulu saya bisa melawan rasa takut, andai dari dulu saya bisa mencium pipi ibu yang mengandung dan menahirkan saya, andai dari dulu ikatan darah kami tidak terpisah oleh jarak, andai dulu kami kenal satu sama lain... dan andai andai andai lagi....

Masa lalu tak perlu di sesali. Biarkanlah menjadi kenangan, dan yang penting adalah masa kini dan nanti.
Mencoba meraih mimpi di Oriflame, tetap semangat dan berjuang untuk SM tahun ini, Karena mimpi-mimpi yang lain masih menanti :)

Happy Lunar New Year!!!



Koko ganteng Ahua Narsis ;p


Makanan Pembuka


Sup kepiting, Yummy loohh



Aci pake sumpit. Keyen yaakk ;)


Cece Amei dan Ko A Leng


Risma, Lili, Kak Indra dan saya :P


Mama yang sudah semakin tua :(


Ko Ahua dan istri



Peace.. with my mom :D


Ahmad, smile :)


Mirip apa gak yaa ;p



Cece Henny yang kalo nelp suka 1 jam-an :D



12.03.2012

Rindu mama

Rindunya aku, kepada Mama. Andai aku punya sayap, aku akan segera terbang memeluk Mamaku.
Ingin dibelai Mama, ingin di dongengkan Mama, karena masa kecilku tidak merasakannya.
Ma, aku tahu semua adalah takdir.
Kita berpisah, kita bertemu.

Bagiku Mama cantik, secantik bidadari.
Hati Mama putih seputih salju.
Jiwa mama lembut, selembut kapas.

Ma,
Dua hari bersama Mama sungguh tak cukup.
Biar pun mereka bilang aku seperti kekanak-kanakan,
Sesungguhnya aku ingin memeluk Mama, membisikkan kepada Mama,
apapun yang aku lakukan takkan tergantikan dengan perjuangan Mama melahirkan aku,
Penderitaan Mama ketika aku mama lepaskan,
Mama yang menanggung perasaan yang luka, dan Asi yang mulai penuh.
Sementara aku di sana menangis, meminta Asi yang tak kunjung datang,
Saat itu raga kita terpisah, tapi jiwa kita sangat dekat, Ma....

Saat ini pun seperti itu, Mama...
Jiwaku selalu mengingat mama...
Mama sedang apa...
Apakah Mama sedang masak sayur...
Atau duduk melihat orang lalu lalang di depan toko...
Apakah Mama sedang tersenyum, tertawa..
Aku selalu doakan Mama semoga selalu sehat..
Selalu bahagia....

Mama,
Aku sungguh merindui Mama
Seperti yang aku ucapkan di telepon tadi siang,
Jangan tinggalkan aku lagi ya, Ma....


9.13.2012

Bolehkah aku merasa rindu?

Berusaha sibuk.
Tapi siang ini aku kalah.
Berat melawannya.

Berusaha kuat.
Tapi ketika mengingat beliau, memandang fotonya.
Aku tidak bisa berpura-pura sibuk dan bersandiwara kuat.

Aku ingat.
Siang itu, dibimbingnya aku ke kamarnya.
Ada setumpuk album foto yang belum pernah aku lihat.
Foto orang-orang berkulit putih dan bermata sipit.
Foto orang-orang terdekat jiwaku, tapi sangat jauh dari ragaku.

Ada sesesosok pria gagah di sana.
Tinggi, ganteng.
Di dalam foto itu, dia tersenyum, manis.
Dia bapak kandungku.
Yang hanya tersenyum padaku dalam foto itu,
Yang kusebut namanya, ketika aku meminta wali hakim menikahkan aku enam tahun yang lalu.
Yang saat kepergiannya aku hanya berjalan melewati tenda duka berwarna biru,
Maafkan Hanny, papa...
Andai aku tahu saat itu yang terbujur kaku di sana adalah dirimu...
Mungkin aku juga akan meraung, memelukmu untuk yang pertama dan yang terakhir.

Entah aku ini anak seperti apa.
Dulu merindukan bertemu ibuku.
Kini setelah pernah bertemu, aku tidak bisa melepas ikatan rindu.
Menyatu, berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah kami berpisah.
Walau suaranya kerap terdengar di telingaku, tapi rindu itu tak melepas dari batinku.

Aku rindu mama, yang pernah membimbingku ke kamarnya, memperlihatkan setumpuk album foto.
Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya di kamar itu, bercerita tentang orang-orang bermata sipit dan berkulit putih yang ada di dalam sana.
Ingin menjadi bagian terindah dalam hidup mama, andai aku bisa.
Ingin melupakan kisah suram dan menggantinya dengan pelangi setiap hari.

Masih bolehkah aku merasa rindu?

9.03.2012

Akhir Episode Teka-teki

Di Pekanbaru.

Sudah tiga hari meninggalkan orang tua dan keluarga kandungku.
Jika ditanya apakah aku merindu?
Iya, sungguh dan sangat merindu.
Karena tiga puluh dua tahun belum puas tergantikan dengan dua hari.

Aku kembali ke rutinitas, dengan perasaan yang sangat dan sangat bahagia.
Seperti tidak ada orang lain yang lebih bahagia dari aku saat ini.

Tidak ada beban lagi.
Yang tersisa sungguh hanya rindu, dan hanya rindu.

Aku belajar banyak hal. Ada sisi positif, kesamaan dalam diriku dengan saudara sedarahku.
Menemukan mereka, membuat aku semakin mantap dan percaya diri dengan mata sipitku.
Andai aku bisa genggam waktu,dan andai kisah hidupku adalah sebuah video, akan aku putar ulang dan saksikan bagaimana saat aku dilahirkan, diserahkan dan kemudian dibesarkan.

Saat SD, aku bingung dan hanya bisa menangis, ketika aku  diejek oleh teman-temanku dan dikatakan bahwa aku adalah anak angkat.
Saat penjual es krim yang namanya kalau tak salah 'Taku' mengatakan hal yang sama, aku hanya mampu lari, mengadu kepada orang tua angkatku.
Dan masa kecilku adalah masa polos sehingga ketika Ibu angkat mengatakan bahwa aku adalah anak kandungnya, kemudina aku langsung percaya.

Masa SMP masa aku mulai merasa.
Merasa lain dengan mereka, saudara angkatku. Takut, menghadapi kenyataan, takut bertanya dan tidak tau harus bertanya kepada siapa. Setiap kali menonton sinetron yang menceritakan tentang anak angkat, aku hanya mampu menundukkan pandangan, dan menyadari bahwa aku sama seperti dalam cerita itu.
Tapi aku hanya diam, dan hanya bisa menyembunyikan perasaan dalam-dalam. Sedalam-dalamnya.

Masa SMA aku hampir melupakannya, tatkala di kelas satu aku menerima sepucuk surat tanpa identitas. Ya,surat kaleng.
Masih hal yang sama dituliskan dalam surat itu.
"aku anak angkat"
Dan aku masih takut. Kusobek kecil-kecil dan ku buang ke dalam tempat sampah,
Dan masih hal yang sama aku lakukan,
Menyimpan, menyembunyikan perasaan dalam-dalam dan sedalam-dalamnya.
Karena yang aku rasakan juga masih sama, takut menghadapi kenyataan, takut bertanya dan tidak tau harus bertanya kepada siapa.

Kelas 2 SMA.
Surat kaleng lagi.
Ini kali kedua aku menerima surat tanpa identitas. Kali ini surat tsb dilempar dari jendela kelasku.
Pagi, aku datang dan kulihat ada surat untukku.
Berdebar, karena sebenarnya aku sudah mulai melupakan surat kaleng yang pertama.

Namun, kali ini nampaknya si pengirim berhasil membuat aku galau.
Aku tak tahan lagi. Saat itu empat hari menjelang hari lahirku yang ke tujuh belas tahun.

Dengan berdebar, memberanikan diri aku menyodorkan surat itu kepada ibu angkatku, sepulang dari sekolah.
Yang kuingat beliau menangis, dan aku juga, Menangis tertahan, Menangis bahwa apa yang aku duga dan pikirkan selama ini adalah benar. Aku anak angkat. Kenyataan yang terkuak menjelang usia dewasaku.

Terhenyak, dan diam. Aku takut, bingung, tak punya kekuatan apalagi keberanian untuk bertanya lebih banyak, dimana mereka? dimana orang tua yang melahirkanku? Dimana saudara sedarahku?
Telingaku hanya mampu mendengar cerita yang mengalir dari mulut Ibu angkatku, bahwa aku diadopsi sejak umur 9 hari, dalam keadaan cacat.
Siapa yang tidak sedih, siapa yang tidak pilu, Cacat, ditinggalkan, diserahkan...



Perasaan itulah yang aku pendam, berpuluh tahun.
Perasaan itu pula yang aku simpan rapat-rapat dalam ketakutan dan ketidakberanianku.
Sampai aku menikah, ketakutan, ketidakberanian itu hanya bisa aku luapkan kepada suami tercintaku.

Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menahan air mata selama seminggu terakhir ini, sejak aku mulai bertemu dengan seorang wanita yang mengandung dan melahirkanku, dan 9 saudara kandungku?
Bagaimana mungkin aku bisa menahan perasaan bahagia atas dua hari indah bersejarah dalam hidupku?




Kini, episode teka-teki dalam hidupku sudah terjawab.
Kebahagiaanku sudah complete. Kalau ibarat download file, sudah finish 100%.

Entah siapa pengirim surat kaleng itu, sampai detik ini aku tidak tau.
Tapi aku rasa, aku patut berterima kasih kepadanya, karena tanpa surat darinya, mungkin aku tidak ada dalam foto-foto bahagia ini.



Hanya mereka, koko2 dan cece2ku adalah orang pertama yang memanggil aku 'adik'.
Benar, seumur hidupku aku belum pernah merasa disayang seperti ini.


Akan aku ukir hari-hariku bersama mereka, walau jarak kami jauh.
I miss U, my brothers, my sisters..

Plis jangan tinggalkan aku sendiri lagi...

Untuk saudara kandungku:
1. Cece A Cung
2. Koko A San
3. Cece A lek
4. Koko A Nik
5. Cece A Mei
6. Cece A Hen
7. Koko A Hua
8. Koko Pendy
9. Koko A Leng


8.29.2012

Pertemuan haru biru : My Chinese Family

Malam sudah larut,
Seharusnya aku mengantuk, karena malam sebelumnya aku hanya bisa tidur nyenyak tiga jam.
Tapi jari jemari ini tak sabar untuk melukiskan bagaimana bahagianya aku, seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, kemudian tercelup dalam pertemuan yang sangat mengharu biru. Senang, bahagia dari lubuk hati yang paling dalam dan masih merasa harus menepuk pipi karena ini sungguh seperti suatu keajaiban.

Saat aku mengetik ini, aku menginap di rumah abang di atasku, Ko Cung Leng. Kesan pertama ku ketika dia menjemputku di pelabuhan Punggur tadi siang adalah: ABANGKU KEREN...
Dulu ini juga hanya mimpi, sampai aku merasa dia adalah abg yang paling menyayangi aku, karena saat aku di serahkan ke ibu angkat, dia yg waktu itu sekitar 5-6 tahun menangis tak rela, dan yang bikin aku terharu abangku masih mengingat kejadian perpisahaan itu sampai sekarang.

Selanjutnya, dari pelabuhan aku dibawa ke rumah kakak perempuanku yang ketiga, Ci A Me.
Disinilah aku bertemu dengan wanita 77 tahun yang telah mengandung dan melahirkan aku, rambutnya telah putih penuh uban. tapi beliau masih terlihat begitu kuat. She is my mom, ku peluk, kucium pipinya dan pecahlah tangisan yang dari rumah di Dabo, di kapal sudah tak bisa  aku tahankan.

Mimpi, masih seperti mimpi.
Hari ini sejak sampai di Batam, aku seperti artis di keluarga kami ini. Abang-abang di Batam semuanya datang, berkumpul dan melihat aku dengan penasarannya seperti apa. Bentuk tanganku yang jempol semua, menjadi bahan tertawaan, ternyata keluarga kami memang memiliki ciri khas struktur tulang yang besar-besar. Bahkan kata Dymsi /Aci, hidung kami mirip-mirip... ;p

Aku menangis. Menangis bahagia.
Aku gak mau kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya.
Gak mau dan gak akan mau lagi..

Pertemuan ini begitu indah.
28-29 Agustus menjadi hari yang bersejarah.

Nanti kalau sudah di Pekanbaru, aku akan merindukan dua keluargaku ini.
Dan jika ada yang bertanya kepadaku, punya berapa bersaudara, aku akan katakan bahwa aku punya 14 Saudara,.

Oya, hampir lupa.
Aku seperti terlahir kembali,karena sekarang aku sudah dikasi  nama Chinese:

Se Moi  atau  Hanny...

So Sweet

Penantian 32 tahun

Tiga puluh dua tahun aku menantikan hari di saat aku bisa bertemu dengan keuarga kandungku. Dan akhirnya kemarin, 28 Agustus 2012 saat pertama aku melihat, ngobrol dengan koko pertamaku. Saat pertama aku melihat orang yg mirip denganku selain Dymsi dan Ahmad.

Aku pernah punya mimpi itu, aku pernah menulisnya di blog ini.
Alhamdulillah mimpiku diwujudkan Allah menjadi nyata.

Aku yg sering membatin, rindu ingin mencium tangan dan memeluk ibu kandungku, InsyaAllah, hari ini kami akan bertemu.

Semua terjadi seperti mimpi, punya 9 kakak di atasku adalah sesuatu yg luar biasa aku rasakan. Bertemu dg keluarga chineseku yg dulu hanya menjadi hayalanku.
Terus terang aku senang dan bersyukur memiliki darah chinese.

Aku yg punya wajah tak cantik tapi banyak yg bilang unik. mungkin krn mata yg sipit dan dibalut jilbab. Aku yg sejak Dymsi mulai mengerti, sering menjelaskan kepadanya bahwa kita punya darah chinese...

Ini foto dan koko pertamaku, perasaanku bercampur aduk senang seperti ini berkat kedatangannya ke rumah kami tadi siang.

Nanti, kalau aku sudah bertemu dg mamak dan saudara chineseku, satu yang akan aku minta adalah nama chineseku. Semoga dikasi yg bagus. :-P

Miss u mom, miss u my brothers, sisters, gak kebayang gimana rasaya jadi adek bungsu yg ke-10.
:D



posted from Bloggeroid