Catatan hati...

 photo catatanhati2_zpscf021a88.jpg

10.28.2008

Pindah Rumah

Alhamdulillah, akhirnya kami pindah ke 'calon' rumah kami sendiri, di Nuansa Griya Flamboyan Blok I No. 7 Hari Sabtu, 25 Oktober 2008 kemarin. Betapa repotnya pindah rumah, sampai hari ini masih ada yang belum kelar, maklumlah kami berdua bekerja dari pagi hingga sore.

Rumah baru kami ini, type 40, lebih kecil dari rumah sewaan Pak Daud yang sudah lebih 2 tahun kami tempati.



Mudah-mudahan rumah baru ini berkah bagi kami, diberi kesehatan, kemurahan rejeki dan kebahagiaan dalam hidup berumah tangga, Amin..

10.18.2008

Uwo Sakit

Uwo sedang sakit...
Sejak Kamis kemarin dirawat di RS Ibnu Sina. Semoga cepat sembuh ya, Uwo... Kami semua sayang Uwo..

10.11.2008

Cerita Mudik 1429H


Hey..hey... Lama sekali aku meliburkan diri dari dunia blogger! Ya, kemana lagi kalau bukan mudik.. Kepada semua pembaca 'setia' blog ini, kami sekeluarga mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.... Mohon maaf juga buat teman-teman yang telah mengisi SB namun belum sempat daku balas kunjungannya...

Our Dymsi

Dua puluh tiga September 2008 kami bertolak jam sore melalui kapal motor Jelatik Express ke Selat Panjang, Kabupaten Bengkalis. Perjalanan ini adalah perjalanan terlama berdasarkan urutan waktu, karena perkiraan sampai di tujuan jam 5 subuh besoknya. Bermalam di KM Jelatik ini sebenarnya lebih nyantai dibandingkan berpergian dengan mobil atau kendaraan kapal yang lain, dan disini tidak ada mengenal kelas VIP atau ekonomi. Semua mendapat tempat yang sama, dengan harga tiket untuk saat ini Rp. 80.000,-

KM Jelatik Express

Satu hal yang kurang menyenangkan di sini adalah WC-nya. Ya, sebagaimana WC yang tidak menyenangkan dari kapal motor bersama....

Dymsi di jendela KM Jelatik

Sedikit melenceng dari perkiraan, kami sampai di Selat Panjang pukul 06.30 WIB, dan pada pukul 11 siang kami pindah kapal lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pinang melalui kapal MV Dumai Express. Kapal berjenis fiber ini membawa kami sampai di Tanjung Pinang sekitar pukul 4 sore. Alhamdulillah gelombang cukup teduh, dan Dymsi sama sekali tidak rewel. Kami menginap di Hotel Wisma Riau. Rencana awal di Hotel Surya, hotel langganan kalau kami pulkam, karena disini murah meriah dan nyaman. Tapi di saat mudik begini pada penuh kamarnya.

Jembatan Siak yang diresmikan SBY

Oya., ini ada hasil jepretan Hubby Jembatan Siak di malam hari dari atas sungai. Konon pembangunan jembatan ini mengabiskan cukup banyak biaya dan jembatan ini jelas tidak sebanding dengan jembatan Leighton yang ada di Pekanbaru.

Kepadatan penumang di Pelabuhan Sri Bintan Pura - Tanjung Pinang

Keberangkatan ke Dabo tentu sama seperti para pemudik lainnya, berdesak-desakan untuk menuju kapal yang pada hari itu hanya satu yang berangkat ke tempat kelahiranku. Di Tanjung Pinang alias Pulau Bintan penumpang yang menunggu sudah sangat ramai, bukan cuma penumpang tujuan Dabo, tapi juga penumpang tujuan Batam, Tjg Balai Karimun, bahkan mungkin Malaka dan tempat-tempat lainnya. Di Tanjung Pinang ini pelabuhannya sangat strategis.

Pelabuhan Jagoh

Pelabuhan Jagoh menjadi ending perjalanan via kapal part 1. Kapal berlabuh jam setengah lima, tapi kami tidak mendapat angkutan mobil yang akan membawa kami istirahat di rumah Mommy. Akhirnya abangku, Bang Adek mengirimkan mobil jemputan yang membawa kami sampai jam setengah delapan malam, setelah melewati perjalanan darat kurang lebih satu jam.
Tiga belas hari (nett) kami di kampung halamanku itu.

Rumah Kami di Dabo

Tak banyak yang berubah, bahkan menurut Hubby, Dabo yang sekarang ya tetap sama saja dengan Dabo kurang lebih tiga tahun yang lalu, ketika kami melangsungkan pernikahan. Dalam Bulan Ramadhan itu kami sempat berjalan-jalan ke pantai biasa, bukan pantai pariwisata. Itu untuk mengobati kerinduanku pada pantai, sekaligus memperkenalkan pantai kepada Dymsi, anak kami.

Di pantai
Waktu ke pantai pertama kali sejak kedatangan kami itu, ombak lumayan bergejolak.Entah mengapa aku tidak menikmati keindahan itu 100%,karena tiba-tiba timbul sedikit rasa takut akan ombak yang menari lepas, dan melantunkan lagu alamnya.Terbayanglah tsunami, entah bagaimana perasaan jika tiba-tiba saja ombak itu menjadi lebih tinggi. Tapi tentu itu tidak ada dalam pemikiran Hubby & Dymsi, karena mereka asik bermain dengan ombak yang datang melambai pantai, menyentuh pasir lembutnya.

Dymsi happy di pantai

Semakin menjadi seorang ibu, aku merasakan diriku semakin menjadi orang yang penakut. Di satu sisi barangkali daku terlihat tegar, tapi disisi lain ada bermacam-macam ketakutan yang dulu hampir tidak pernah ada.

Dabo masih seperti Dabo yang dulu.

Pelabuhan Dabo
Pelabuhan ditengah kota yang tidak termanfaatkan oleh kapal yang berlabuh dari Tanjung Pinang. Setiap jam petang pelabuhan ini menjadi tempat jalan-jalan sore untuk melepas memandang laut atau tempat memancing bagi beberapa orang.

Sunset di Pelabuhan Dabo
Jalan-jalan yang sepi, gedung-gedungnya juga tidak banyak berubah. Yang kelihatan bertambah adalah bendera-bendera berbagai macam partai dengan semboyannya masing-masing. Bahkan salah satu partai membuat tulisan di spanduknya menyesuaikan dengan bahasa melayu setempat: "Bersame Kite Bise". Aku membacanya di beberapa ruas jalan.

Simpang 4 Toko Sakura
SMP Negeri 2 dan SMU Negeri 2, ex. sekolahku juga masih seperti itu. Oya ada gedung yang sedang di rombak di SMUN 2.

Simpang 3 Balai


Masjid Azzulfa

Ada 1 buah minimarket yang baru, Mega Glory. Mungkin hampir semua orang di Dabo senang berbelanja di sini.

Dymsi naik 'harimau bergoyang' di Mega Glory

Pengamatanku yang lain selama di Dabo, adalah perihal makanan jajanan, seperti bakso, mie ayam, pangsit ataupun jajanan lain yang sejenis sangat kurang di sini. Misalnya bakso yang paling enak mungkin bakso ikan Mas Mangun yang mangkal di Sungai Lumpur. Tapi kalau bakso sapi, mie ayam, rasanya masih kalah telak. yang anehnya walaupun rasanya 'kurang' tapi yang makan di tempat tetap banyak, bahkan yang ingin membeli bawa pulang juga mengantri.Aneh.
Kemudian bahan makanan juga mahal walau Pulau Singkep ini dikelilingi oleh laut. Ikan rata-rata dua puluh ribuan yang paling murah untuk ukuran 1 kg. Ikan tenggiri 40rb/kg. Udang 40rb-50rb/kg. Kepiting 40rb/kg.Ayam ras 30rb/kg. Daging sapi apalagi, sebelum lebaran sudah mencapai 100rb/kg. Sama seperti dulu, daging sapi ini tidak setiap hari ada di pasar, nahkan sangat jarang sekali, karena pemotongan sapi hanya pada event-event tertentu saja. Makanya kalau ada yang berhajat memotong sapi (sekaligus menjual daging di pasar), biasanya berita itu sudah tersebar ke seluruh penjuru Dabo.

Persiapan Sholat Id


Dymsi yang sempat ngambek sebelum sholat Id

Idul Fitri kami sohalat Id di kompleks rumah, dengan jamaah yang tidak terlalu memadati Musholanya, bahkan bisa dibilang cukup lengang. Pulangnya kami bermaaf-maafan dan menerima tamu cilik. Kami lebih banyak di rumah, selain bersilahturahmi dengan tetangga.

Mommy dan cucu-cucunya di Dabo

Di Dabo Dymsi sering berebut mainan dengan Pini, ada ke-2 Bang Adek yang biasa disapa Angah. Sementara Riska sudah mulai dewasa pemikirannya dan Fahri alias Dek Ndo yang berumur 4 bulan sangat anteng sekali sehari-harinya.

Ketupat before direbus

Ketupat yang siap 'disebarkan' ke pembeli

Lebaran begini seperti biasanya Mommy mendapat rejeki order pesanan ketupat. Untuk tahun ini hanya sekitar 700 buah, tidak terlalu banyak dibandingkan dulu karena kondisi Mommy juga tidak se-fit dulu.
Hubby-ku kursus buat ketupat

Bengkel Bang Adek di belakang rumah

Sehari sebelum pulang kami ziarah ke makam Bapak, nenek, Atuk, wong dan Mak Cik Halimah. Ada perasaan haru yang tumpah, terlebih pada pusara Wong dan Makcik, karena almarhumah masih ada terakhir kami pulang waktu akan menikah. Banyak kenangan yang tak terlukiskan.

Makam orang-orang tercinta

Rabu tanggal 8 Okt kami bertolak kembali ke Pekanbaru, melewati rute yang sama, dan sekarang kembali bekerja, beraktifitas seperti sedia kala....
Kabut & matahari terbt di Sungai Siak

*ending cerita mudik,-.

9.22.2008

Monday, busy?

Monday.
Hari ini pilkada untuk pemilihan gubernur Riau. Bingung mau pilih yang mana. Siapapun nanti yang menang semoga menjadi pemimpin yang baik bagi propinsi ini.
Planning hari ini berbelanja sedikit untuk keperluan hari raya. Karena sibuknya kami hampir tidak punya banyak waktu untuk berbagai rencana. Seperti kemarin, tidak sempat untuk ke rumah Ibu karena ditahan untuk buka bersama di rumah Bang Apok, dan dilanjutkan dengan kedatangan Ayah Nugha sekeluarga pada malam harinya. Hebohnya Dymsi mengajak Kak Kembar & Mas Nugha untuk menonton Upin & Ipin 12 episode....

9.20.2008

KPR - Mudik-Buka Bersama

Hari-hari menjelang pulang ke Dabo sangat sibuk. Semua harus dikejar. Alhamdulillah akhirnya Kemarin Jumat, 19 September 2008 kami telah selesai melaksanakan akad kredit rumah di Bank BTN, setelah mendapat surat persetujuan dari BTN bulan Agustus kemarin. KPR gitu..
InsyaAllah kalau tidak ada halangan Bulan Nopember nanti kami akan menempati rumah baru yang mungkin lebih kecil dari rumah sewaan ini. Tak mengapa, asalkan yang dicicil itu adalah rumah kami sendiri.. Terima kasih Ya Allah, Alhamdulillah....
Oya, mengenai pulang ke Dabo Singkep, kota kecil tempat aku dibesarkan itu, rencananya kami akan pulang hari Selasa nanti, tanggal 23 September. Berhubung ongkos melalui transportasi udara sangat mahal sekali (bisa 2x lipat dari angkutan laut), dan dengan pertimbangan penghematan, kami memutuskan untuk pulang dengan kapal saja. Kalau dari Pekanbaru ini, kami akan bertolak ke Selat Panjang pukul 5 Sore dengan kapal motor Jelatik, menyusuri Sungai Siak yang akan menjadi pengalaman pertama buat Hubby & Dymsi. Sedangkan aku, sejak jaman kuliah dulu sudah berkali-kali menggunakan transportasi ini.
So friends, mungkin daku juga bakal lama tidak mengunjungi blog ini, kalau cuma ym-an barangkali bisa, itu pun kalau ada waktu, sebab menurut schedulle aku akan membuat kue lebaran sesampai di Dabo nanti, kasihan Mamak tidak ada yang membantu. Kalau mau beli juga sayang, toh aku kan ada waktu dan Dymsi sudah cukup besar tidak masalah jika aku di dapur. Lagi pula di sana nanti akan ada sepupu-sepupunya yang bakal menjadi teman bermainnya.
Pagi ini terasa lebih melelahkan, kemarin kami ikut buka puasa bersama di sekolah Hubby. Acaranya ramai, dihadiri oleh orang tua murid juga. Karena tidak tahan dengan suasana yang cukup berdesakan itu, aku memutuskan untuk stay di labkom saja. Dymsi juga betah sekali di 'kantor' ayahnya itu...
oya sebelumnya tanggal 13 September kemarin kami buka bersama di rumah Ibu, sekalian acara buka bersama anak murid Yati juga. Belum sempat ditulis ya ceritanya.. ya itu karena sang penulis ini sibuk sekali...
Hmm, melelahkan memang. Belum tau ni apakah masih bisa update blog ini atau tidak, berhubung Senin mendatang di Pekanbaru bakal dilaksankan Pilkada pemilihan gubernur Riau yang baru... Doain ya semoga perjalanan mudik kami tahun ini selamat, sehat dan menyenangkan!

9.13.2008

Mulai Sekarat atau Berkarat?

Hampir enam tahun aku bekerja di sini, di perusahaan kontraktor yang 'membesarkanku' di dunia kerja. Waktu di terima bekerja di sini, aku masih menyusun skripsiku, yang berbasis analisa mikroba. Bidang ilmuku sangat bertolak belakang dengan pekerjaan yang aku jalani sekarang. Tapi mau bagaimana lagi...............
Tahun bertambah, tapi perusahaanku(baca: perusahaan bos ku) ini bukan semakin maju, malah sebaliknya. Pekerjaan semakin bertambah, tapi penyelesaian pekerjaannya semakin lambat, yang bermain antara addendum dan denda. Pusing.
Tahun 2008 yang menurut gambaran orang chinese adalah tahun keberuntungan, mungkin setengah berlaku bagi perusahaanku. Di satu sisi, sepanjang tahun ini pekerjaan datang betubi-tubi, malah sub kontraktor langganan kami juga ikut kewalahan, kekurangan anggota. Tapi disisi lain, kami sering macet dibahan, macet di keuangan, sungguh keadaan yang memancing emosi kerja. Karena tidak setiap orang di kantor ini peduli dengan keadaan kami yang mungkin sudah mulai sekarat (atau berkarat?).
Semoga ada perbaikanlah, Bos. Banyak karyawan yang menggantungkan nasib hidup, makan anak & istri di sini....

9.04.2008

Upin & Ipin


Kamis.
Ramadhan hari ke-4.
Sudah mulai terbiasa, dengan suasana Ramadhan yang membuat kita menjadi bersahaja.
Mungkin sebelumnya kita menjadi manusia yang berlebihan dengan keinginan yang berlebihan dan prilaku yang berlebihan pula.
Tapi dengan menjalani Bulan Ramadhan, kita bisa lebih menahan diri. Diluar Ramadhan barangkali terasa berat, ternyata dalam Ramdhan kita bisa. Intinya bukan mesti di Bulan Ramadhan saja, diluar Ramadhan seharusnya kita juga menjadi manusia yang bersahaja.



Pernah mendengar atau menonton kartun animasi Malaysia UPIN & IPIN?
Dymsi suka sekali nontan kartun ini. Ceritanya sangat mendidik. Kartun animasi berdurasi singkat ini menceritakan tentang kisah saudara kembar, Upin & Ipin yang telah tinggal bersama Nenek dan kakaknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Bahasa melayu Malaysia yang sangat kental membuat aku teringat dengan kampung halamanku (baca: Dabo Singkep). Hampir persis sama.
Tingkah laku Upin & Ipin ini yang lucu, ditambah logat melayunya menonton kartun ini akan membuat kita tersenyum, bahkan bagi kami yang mendalami istilah melayunya bisa tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya di Televisi Swasta kita, TPI sudah pernah menayangkan Upin & Ipin ini selama Bulan Ramadhan.
Buat yang penasaran, belum pernah nonton bisa download disini.

9.03.2008

Dymsi Selepas di Sapih



Alhamdulillah sampai hari ini aku masih bisa menjalankan ibadah puasa. Oya, Dymsi sudah mulai beradaptasi dengan suasana malamnya yang setelah menjalani malam ke-5. Hanya saja seharian kemarin minta gendong melulu, dan agak rewel. Bahkan saat kami berbuka pun Dymsi minta gendong juga. Tapi tidur malamnya 100% baik, sesekali bangun, duduk dan minta minum air putih, setelah itu langsung tidur kembali. Sampai saat ini Dymsi tidak mau mimik susu botol kalau malam, kalau siang dia mau.

Oya, hari Minggu kemarin kami ke rumah Nenek Labor (Ibu). Selepas ziarah kubur (aku dan Dymsi tidak ikut), Dymsi minta difoto. Jadilah Nenek & Ayah seperti fotografer, sibuk menjepret si bidadari kecil ini.

8.30.2008

Menyapih Dymsi

Sejak kemarin Jumat (29/8) aku mulai menyapih (memberhentikan pemberian ASI) Dymsi. Satu hal yang sebenarnya sangat berat aku lakukan sebagai sorang Bunda yang telah menyusuinya selama ini. Umur Dymsi memang belum genap 2 tahun, dan aku sengaja moncoba belajar menyapih, supaya saat 27 Ramadhan nanti (tepat Dymsi berumur 2 tahun menurut perhitungan Tahun Hijriyah) dia tidak menerima ASI lagi.
Sebenarnya aku sudah stok daun pepaya dan gambir di kulkas, tapi karena yang lebih masuk akal dan gampang adalah jeruk nipis, seperti yang disarankan Meni, teman kantorku, maka aku putuskan alternatif terakhir yang aku pilih.
Dymsi belum sempat sama sekali menghisap 'kismis'nya. Aku memberi penjelasan: "Mimik bunda lagi sakit". Hanya dengan melihat Dymsi sudah menolak. Tadi malam tidurnya agak rewel, karena Dymsi tidak mau mimik botol. Akhirnya tubuhnya aku goyangkan (ayun dalam dekapan) sambil dipeluk hangat. Sesekali dia minum air putih yang setiap malam distand-by kan di atas meja kamar.
Akhirnya tadi malam berlalu tanpa mimik bunda, aku tahu ini cukup sulit bagi Dymsi yang setiap malam sejak dia lahir selalu dikeloni oleh kismisnya. Sebagai seorang Bunda, batinku sesungguhnya menangis, tidak tega melepaskan Dymsi yang biasanya bergelayut manja dalam pelukanku. Kami banyak bercanda di saat dia mimik, kami banyak bercerita di saat mulutnya menempel, menghisap, bahkan mempermainkan kismisnya itu. Tapi aku bahagia, karena dari situlah ikatan batin (bonding) kami terasa sangat dekat.

Dymsi yang tertidur tadi malam tanpa 'kismis'

Btw, penyapihan ini harus berlanjut karena Dymsi sudah semakin besar. Mau tidak mau,Bunda sayang Dymsi, Nak... Sayang sekali.....

8.26.2008

Guyonan Akut gak Bikin Semaput


Ini buku Astina Ranggataka diterbitkan oleh PT. Tangga Pustaka Tahun 2007, jadi bukan buku baru. Barangkali teman-teman juga pernah membaca buku ini, tapi tidak ada salahnya aku petik kembali SATU guyonan akut yang bisa membuat kita tersenyum kecil.

AMERIKA TIDAK JADI MENYERANG INDONESIA
Pentagon membayangkan, jika AS terpaksa harus menyerang Indonesia, berapa kerugian yang harus dipikul pihak AS dan berapa keuntungan pihak Indonesia dari aksi serangan tersebut.

Begitu memasuki perairan daratan Indonesia, mereka akan dihadang pihak Bea Cukai karena membawa masuk senjata tajam serta peralatan perang tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti mereka harus menyediakan 'uang damai', coba hitung berapa besarnya jika bawaannya sedemikian banyak.

Kemudian, mereka mendirikan base camp militer; bisa ditebak disekitar base camp pasti akan dikelilingi oleh penjual bakso, tukang es kelapa, lapak VCD bajakan,s ampai obral 'daleman' Rp. 10.000 dapat 3. Belum lagi para pengusaha komidi putar juga bakal ikut mangkal di sekitar base camp.

Kemudian, kendaraan-kendaraan tempur serta tank-tank lapis baja yang diparkir dekat base camp akan dikenakan retribusi parkir dari petugas dari Dinas Perparkiran Daerah. Jika dua jam pertama kendaraan dikenakan Rp. 10.000 (maklum tarif orang bule), berapa yang harus dibayar AS kalau kendaraan dan tank harus diparkir selama sebulan.

Sepanjang jalan ke lokasi base camp pasukan AS harus menghadapi para Mr Cepek yang berlagakmemperbaiki jalans ambil memungut biaya dari kendaraan yang lewat. Dan, jika kendaraan tempur dan tank harus belok atau melewati perseimpangan, mereka harus menyiapkan recehan untuk para Mr Cepek itu.

Suatu kerepotan besar bagi rombongan pasukan jika harus berkonvoi yang berjalan lambat pasti akan dihamp[iri oleh para pengamen, pengemis dan anak-anak jalanan, ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.Belum lagi jika di jalan bertemu dengan polisi 'iseng', sudah pasti mereka kena 'semprit' karena konvoi tanpa izin. Bayangkan, berapa uang tilang yang harus mereka keluarkan.

Di base camp militer, tentara AS sudah pasti tidak bisa tidur, karena nyamuknya masya Allah, gede-gede kayak vampire. Malam hari hutan yang sepi mereka akan dikunjungi para wanita yang tertaea dan menangis. Harusnya mereka senang karena bisa berkencan dnegan wanita ini, tetapi kesenangan tersebut akan sirna begitu melihat para wanita ini memiliki 'lubang' besar dipunggungnya.

Pagi harinya, mereka tidak bisa mandi karena di sungai banyak dilalui 'rudal kuning' yang ditembakkan penduduk setempat dari "Flying Helicopter" alias WC terapung disepanjang aliran sungai.

PAsukan AS juga tidak bisa jauh-jauh dari peralatan perangnya karena di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempreteli peralatan canggiha yang mereka bawa, Meleng sedikit saja, tank bakal dikiloin. Belum lagi para curanmor yang siap beraksi dengan kunci 'T'-nya untuk merebut jip-jipo perang mereka.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, badan pasuka AS akan jamuran karena tidak berganti pakaian. Kalau berani nekat menjemur pakaiannya dan meleng sedikit saja, besok pakaian mereka sudah mejeng di pasar Jatinegara di lapak-lapak pakaian bekas.

Peralatan telekomunikasi mereka juga harus dijaga ketat karena para bandid kapak merah sudah mengincar peralatan canggih itu.

Dan, mereka itu harus membayar sewa tanah yang digunakan untuk base camp kepada Haji Husin, Haji mamat dan Engkong Ja'i para pemilik tanah. Selain itu, mereka harus minta izin kepada RT/RW dan kelurahan setempat, berapa meja yang harus dilalui dan beberapa banyak dana yang harus disiapkan untuk memberi 'amplop'kepada pejabat-pejabat ini.

Para komandan pasukan AS ini juga akan kena tugas tambahan untuk mengawasi para prajuritnya yang banyak menyelinap keluar base camp untuk nonton dangdutan di RW 06, katanya seeh... di sana lagi ada Inul Daratista.
Membayangkan ini semua, akhirnya AS memutuskan TIDAK AKAN MENYERANG INDONESIA!!!

8.25.2008

Tarhib Ramadhan 1429H

Haii...,
Alhamdulillah Dymsi sudah mulai membaik, setelah kemarin 'dengan sedikit dipaksa' ikut Tarhib Ramadhan di sekolah Hubby. Kemarin pagi itu badannya sudah tidak panas lagi, cuma masih sedikit lemas saja, kurang bersemangat seperti biasa. Syukurlah setelah olah raga pagi Dymsi sudah mulai seperti biasa, mungkin karena banyak teman-teman di sana.

Ini pertama kali kami ikut acara Tarhib Ramadhan di sekolah Hubby, SMPIT Al-Ittihad Rumbai. Tahun kemarin Tarhibnya tidak mengikutsertakan keluarga, kalau tidak salah acaranya out bond di Danau Buatan. Dua tahun lalu ada, tapi kami tidak sempat ikut, waktu itu aku lagi hamil Dymsi, pas mau berangkat datang Ayah si Kembar sekeluarga di rumah kontrakan yang baru kami tempati, jadi kami putuskan batal berangkat.


Acara Tarhib Ramadhan tahun ini dimulai dengan jalan santai jam 7 pagi, dilanjutkan dengan sarapan bersama dan pertandingan olah raga. Untuk anak-anak usia 0-5 tahun lomba memindahkan bola, untuk usia 5-10 tahun lomba mangisi air di botol.

Para karyawan dan guru dapat pertandingan bola kaki, volley dan tarik tambang. Ada door prize juga, Alhamdulillah kami kebagian rejeki setengah lusin gelas. Setiap anak-anak mendapat kupon hadiah, untuk menghindari kecemburuan dan kesedihan bagi yang tidak mengikuti atau memenangkan lomba. Selain itu dibagikan juga voucher belanja di Waserda Ittihad senilai 50 rb. Oya, Dymsi sempat tertidur di Masjid, mungkin karena kecape'an.


Kami pulang setelah makan siang bersama dan sholat Dzuhur di Masjid Ittihad. Sampai dirumah hujan pun turun, syuklurlah kami tidak kebasahan karena hujan. Hubby melanjutkan perjalanan ke UIN setelah istirahat beberapa saat menunggu hujan dalam rangka kumpul kongkow Linux-nya.

Itu cerita semalam, ajang Tarhib Ramadhan ini sudah sangat dinantikan, karena ini acara tahunan yang mengumpulkan seluruh karyawan dan keluarga Ittihad, baik di SMP, MTS, SD,TK dan BMT. Acara ini diselenggarakan untuk mempererat silahturahmi dan acara suka cita untuk menyambut Ramadhan 1429 H yang tak lama lagi datang........

8.21.2008

Dymsi Kurang Enak Badan


Haii...,
Hari ini sedikit senggang, bisa mencoba menulis sedikit.
Dymsi sedang kurang enak badan, pertama di rumah Nenek Labor hari Senin kemarin sudah mulai terserang flu, kemudian sampai di rumah berlanjut dengan batuk dan sejak kemarin sore badannya panas & muntah-muntah.
Tadi jam tiga pagi ditengah mati lampu Dymsi bangun, makan roti tawar, main-main kemudian muntah. Habis gitu ngajak masak di dapur, aku bilang ini masih malam. Biasanya kan memang dia aku ajak masak kalau pagi. Trus minta makan, untung aku masak nasi saat magrib karena nasi tinggal sedikit, dan sepulang mengantar Wati sore kemarin kami singgah ke mini swalayan 999 untuk beli abon, atas request Dymsi. Jadilah Dymsi makan dengan abon sekitar 5 suap, mungkin dia lapar, karena biasanya Dymsi makan 3x sehari.
Habis makan minta dikorekkan kuping, akhirnya ngantuk dan sambil mimik ASI Dymsi pun tertidur.
Semoga cepat sembuh, sejak kemarin siang aku kasi OBH combi untuk anak-anak, disitu tertulis untuk demam, batuk dan pilek. Alhamdulillah pulang tadi siang ingusnya sudah mengental dan panasnya dan batuk juga berkurang. Semoga Dymsi cepat sembuh. Sedih kalau melihat Dymsi sakit.
We love u, Dymsi...