4.17.2008
Re-Seller Jilbabnya Rumah Jilbab
Buat teman-teman khususnya yang di Pekanbaru, yang berminat dengan motif-motif yang ada di Rumah Jilbab, mulai sekarang aku jadi resellernya. Siapa tahu ada yang tertarik, bisa hubungi aku di blog ini. Tentunya bebas ongkos kirim. Atau kalau mau lihat-lihat dulu juga boleh. Tetapi untuk awal jadi reseller ini mungkin tidak semua produk yang ditawarkan oleh BundaKey ada aku stok ya.., beberapa mesti dipesan dulu :)

Ini hasil foto tadi pagi, sebelum berangkat kerja, aku memakai salah satu produk penjualanku.. Bagus kan, jilbabnya?

Ini hasil foto tadi pagi, sebelum berangkat kerja, aku memakai salah satu produk penjualanku.. Bagus kan, jilbabnya?
4.15.2008
Di Gramedia
4.13.2008
Pernikahan 2 Orang Teman
Akhirnya, hari ini Istiqomah atau yang akrab kami panggil Isti alias Kokom bersanding di pelaminan dengan lelaki pujaannya, Khairi. Perkenalan mereka cukup singkat, sekitar 3 bulan perkenalan sebelum hari pernikahan kemarin. Begitulah jodoh, meski beberapa bulan sebelumnya Isti sempat pesimis dengan jodohnya, namun Allah akhirnya memberikan petunjuk, dan bertemulah mereka.
Hari ini juga merupakan hari bahagia Jannatul Hassana, adik kelas kami, angkatan 99. Selepas dari rumah Isti kami menyempatkan diri ke pesta pernikahannya, karena undangan via sms telah kami terima. Disana kami bertemu dengan beberapa adik tingkat yang seangkatan dengan mempelai wanita, satu dua orang nampaknya akan segera menyusul..
Meliat betapa cerianya mereka yang bersanding, mengingatkan diriku ketika pernah duduk di atas pelaminan itu juga....
:)
Hari ini juga merupakan hari bahagia Jannatul Hassana, adik kelas kami, angkatan 99. Selepas dari rumah Isti kami menyempatkan diri ke pesta pernikahannya, karena undangan via sms telah kami terima. Disana kami bertemu dengan beberapa adik tingkat yang seangkatan dengan mempelai wanita, satu dua orang nampaknya akan segera menyusul..
Meliat betapa cerianya mereka yang bersanding, mengingatkan diriku ketika pernah duduk di atas pelaminan itu juga....
:)
4.12.2008
Dymsi Toddler IT
Beginilah kalau Dymsi belajar menulis, disaat ayahnya sedang asik berkutat di depan komputer. Setiap orang tua menginginkan anaknya pintar, demikian pula dengan kami. Dymsi kami inginkan tak terkekang untuk mengembangkan kreativitas yang ada pada dirinya. Misalnya menulis, membaca (walaupun entah apa yang diucapkannya), mengutak-ngatik keyboard komputer, mencolokkan flashdisk ke komputer, ataupun yang berbau dengan IT.
Inilah Dymsi kami, yang semakin sweety.... :)4.11.2008
MPC200 untuk Windows XP SP2
Hari kemarin nyoba install Canon MPC200 ke komputer (kantor) ku :). Tadinya optimis berhasil, karena udah dapat panduan. MPC 200 bisa bekerja pada Windows XP SP 1, kebetulan PCku XP SP 2. Kasus ini pernah kami serahkan ke teknisi XX Komputer, katanya kena virus. Padahal tidak. Itulah, ternyata tidak semua teknisi mengerti bahwa MPC200 butuh file update-an untuk bisa dioperasikan ke XP SP2.
Sayangnya daku tidak berhasil untuk meng-update driver tersebut, yang sudah di download berkali-kali. Padahal sudah tertulis file sudah diupdate, tapi masih tidak bisa ngeprint juga.. Hiks, tadinya semangat, gara-gara tidak berhasil jadi down (lagi pula pekerjaanku jadi terbengkalai), alhasil aku remove lagi semua yang sudah diinstall dari MPC200.
Sayangnya daku tidak berhasil untuk meng-update driver tersebut, yang sudah di download berkali-kali. Padahal sudah tertulis file sudah diupdate, tapi masih tidak bisa ngeprint juga.. Hiks, tadinya semangat, gara-gara tidak berhasil jadi down (lagi pula pekerjaanku jadi terbengkalai), alhasil aku remove lagi semua yang sudah diinstall dari MPC200.
4.09.2008
Blog bukan Diary Seutuhnya
Ada satu pertanyaan yang kadang-kadang muncul di pikiranku: apakah blog itu adil? Sebenarnya pertanyaan ini sudah ada cukup lama, ketika Hubby menawarkan blog sebagai diary online. Menggantikan lebih dari 10 diaryku yang sengaja kubakar habis sebelum menikah dengan Hubby. Aku ingin mengubur seluruh masa lalu disaat aku akan memulai hidup yang baru, dengan laki-laki yang aku cintai.

Tapi tetap saja berbeda, tepat saja tidak sama. Diaryku yang telah tiada itu adalah curahan seluruh isi hatiku, sedangkan blogku ini, bukan seluruhnya. Ada kesedihan yang mungkin tidak bisa dipublikasikan dan dibaca oleh setiap mata, sehingga lara itu harus ditulis di dalam hati saja sampai kemudian hilang perlahan dimakan oleh usia.
Sementara, diaryku yang dulu itu bisa bercerita kapan saja, dimana saja tentang cerita lalu suka maupun duka. Sungguh dua diary yang sangat berbeda. Diary lama tidak butuh arus listrik, dengan lentera pun kami sudah bisa bersua. Tapi diary baru ini sungguh sangat modern, hanya bisa diakses dengan peralatan berupa komputer, baik PC maupun notebook, dan tentunya harus menggunakan arus listrik atau pun baterai.
Ternyata blog bukan sepenuhnya diary, dan diary tetap diary. Diary tetap tak terganti.
Tapi tetap saja berbeda, tepat saja tidak sama. Diaryku yang telah tiada itu adalah curahan seluruh isi hatiku, sedangkan blogku ini, bukan seluruhnya. Ada kesedihan yang mungkin tidak bisa dipublikasikan dan dibaca oleh setiap mata, sehingga lara itu harus ditulis di dalam hati saja sampai kemudian hilang perlahan dimakan oleh usia.
Sementara, diaryku yang dulu itu bisa bercerita kapan saja, dimana saja tentang cerita lalu suka maupun duka. Sungguh dua diary yang sangat berbeda. Diary lama tidak butuh arus listrik, dengan lentera pun kami sudah bisa bersua. Tapi diary baru ini sungguh sangat modern, hanya bisa diakses dengan peralatan berupa komputer, baik PC maupun notebook, dan tentunya harus menggunakan arus listrik atau pun baterai.
Ternyata blog bukan sepenuhnya diary, dan diary tetap diary. Diary tetap tak terganti.
4.08.2008
Kembali kepada-Nya
Innalillahi Wainna Ilaihiraji'un...
Malam Sabtu itu, sekitar pukul 9 kurang Wak perempuan mengetuk pintu rumah, minta tolong sama Hubby untuk mengantarkan Alm. ke dokter 24 jam yang berada tak jauh dari rumah. Kami berempat (aku, hubby, Sari & Dymsi) datang ke sebelah. Nampak Alm. begitu lemas, dan tidak sanggup untuk berdiri. Beliau terduduk di depan pintu kamar , membuat Dymsi menangis, mungkin terkejut. Memang tak biasanya kondisi Alm. demikian, setahu kami Alm. selalu sehat, hanya pernah baru-baru ini demam dan flu ringan.
Kami memutuskan untuk mencari mobil, karena kondisi Beliau sangat tidak memungkinkan untuk diboncengi dengan sepeda motor. Setengah berlari aku ke rumah Bu Rosa, tetangga kami yang punya mobil. Namun dari pagar ku panggil tidak ada jawaban,mungkin tidak dengar. Kebetulan pula jaringan XL sedang lelet-nya, ketika kuhubungi handphone Bu Rosa sama sekali tidak menyambung. Apakah banyak pelanggan yang beralih ke XL untuk menelpon murah setelah program menelpon murah ala simPATI Pede berakhir?
Kami putuskan untuk memanggil taksi, dan masih sempat kulihat Alm. naik taksi tersebut. Itu untuk terakhir kalinya aku melihat beliau yang masih menyatu jasad dan ruhnya. Hubby ikut serta, bersama Wak perempuan.
Terakhir kabar, dokter 24 jam merujuk ke RSUD atau RS Tabrani, karena kemungkinan jantung. Alm memilih ke RSUD.
Bertiga berangkat ke RSUD, menurut cerita Wak perempuan, Alm masih bisa jalan sendiri menuju ruang IDG. Ketika jarum masuk ke lengan (untuk dinnfus), tiba-tiba Alm. meregang, dan dari situ semua bermula. Keadaan menjadi payah, dipompa cukup lama, sampai akhirnya disetrum. Tapi apa daya, Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Beliau pergi. Begitu cepat, bahkan sangat cepat.
Sebelum berangkat ke Dokter 24 jam itu, Alm. sempat buang air besar & muntah. Entah itu pertanda, karena aku teringat kata orang-orang tua, kalau orang yang akan pergi itu biasanya membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian tetangga berdatangan ke rumah Alm, beramai-ramai membereskan rumah untuk menantikan kedatangan jenazah. Sementara aku, menyusul ke RSUD bersama anak-anak Alm (2 orang, 1 laki-laki kelas 3 STM & 1 perempuan kelas 2 SMP).
Sabtu siang jenazah diberangkatkan ke masjid untuk disholatkan setelah selesai dimandikan dan dikafani, dan setelah itu diantar ke tempat peristirahatan yang terakhir. Semoga Alm. diterima disisi Allah SWT, dilapangkan jalannya, dilapangkan kuburnya, dan diterima segala amal ibadahnya serta diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. Amin..
Kami mungkin tidak begitu banyak mengenal sosok Alm, karena Alm. bukan orang yang suka banyak bicara, tetapi Alm. tidak sombong. Yang jelas, Dymsi yang awalnya takut bila dekat dengan Wak-nya, perlahan-lahan mulai berani dan suka. Dymsi memanggil Alm. dengan sebutan Wak Deden, yang tak kami ketahui apa artinya.
Jelas kami juga merasa sangat kehilangan, apalagi Istri dan anak beliau. Aku hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan Wak perempuan selanjutnya, karena selama ini Wak perempuan adalah ibu rumah tangga biasa..
Sabtu malam tetangga di rumah Nenek Dymsi (Ibu Hubby or Mertuaku) yang berpulang ke Rahmatullah. Minggu kemarin kami melayat ke rumah duka. Dan sekali lagi aku melihat jasad seorang Bapak yang telah tak bernyawa. Sejujurnya, selama ini aku belum pernah menghadapi orang meninggal di depan mata, seperti kejadian 2 hari belakangan. Bahkan ketika Wak meninggal, aku sempat berdiri di kamar mayat dalam waktu yang cukup lama. itu cukup membuat aku takut, dengan perut yang mulai mual.
Semua akan kembali kepada-Nya, kita juga. Dalam waktu yang tak bisa ditebak. Kejadian ini seharusnya membuat kita- terutama daku lebih intropeksi diri, supaya ketika dijemput suatu hari nanti, kita benar-benar siap untuk menghadapi babak kehidupan selanjutnya, yang semua masih menjadi misteri....
Wak sebelah, Bapak Damitri telah menghadap Yang Maha Kuasa pada hari Jumat (4 April 2008) Jam 10:20 WIB. Kejadian itu begitu mendadak, hanya dalam hitungan jam saja. Rumah kami bersebelahan, empat rumah bergandengan satu sama lain. Kami menempati rumah ke-2 & ke-3. Pintu samping rumah (kontrakan)ku hampir berhadapan samping dengan pintu rumah Alm. Setiap kali kami keluar rumah atau pulang ke rumah kami selalu melewati rumah ini, dan Alm. biasanya duduk di depan pintu sambil menonton siaran televisi.


Rumah Duka
Malam Sabtu itu, sekitar pukul 9 kurang Wak perempuan mengetuk pintu rumah, minta tolong sama Hubby untuk mengantarkan Alm. ke dokter 24 jam yang berada tak jauh dari rumah. Kami berempat (aku, hubby, Sari & Dymsi) datang ke sebelah. Nampak Alm. begitu lemas, dan tidak sanggup untuk berdiri. Beliau terduduk di depan pintu kamar , membuat Dymsi menangis, mungkin terkejut. Memang tak biasanya kondisi Alm. demikian, setahu kami Alm. selalu sehat, hanya pernah baru-baru ini demam dan flu ringan.
Kami memutuskan untuk mencari mobil, karena kondisi Beliau sangat tidak memungkinkan untuk diboncengi dengan sepeda motor. Setengah berlari aku ke rumah Bu Rosa, tetangga kami yang punya mobil. Namun dari pagar ku panggil tidak ada jawaban,mungkin tidak dengar. Kebetulan pula jaringan XL sedang lelet-nya, ketika kuhubungi handphone Bu Rosa sama sekali tidak menyambung. Apakah banyak pelanggan yang beralih ke XL untuk menelpon murah setelah program menelpon murah ala simPATI Pede berakhir?
Kami putuskan untuk memanggil taksi, dan masih sempat kulihat Alm. naik taksi tersebut. Itu untuk terakhir kalinya aku melihat beliau yang masih menyatu jasad dan ruhnya. Hubby ikut serta, bersama Wak perempuan.
Terakhir kabar, dokter 24 jam merujuk ke RSUD atau RS Tabrani, karena kemungkinan jantung. Alm memilih ke RSUD.
Bertiga berangkat ke RSUD, menurut cerita Wak perempuan, Alm masih bisa jalan sendiri menuju ruang IDG. Ketika jarum masuk ke lengan (untuk dinnfus), tiba-tiba Alm. meregang, dan dari situ semua bermula. Keadaan menjadi payah, dipompa cukup lama, sampai akhirnya disetrum. Tapi apa daya, Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Beliau pergi. Begitu cepat, bahkan sangat cepat.
Sebelum berangkat ke Dokter 24 jam itu, Alm. sempat buang air besar & muntah. Entah itu pertanda, karena aku teringat kata orang-orang tua, kalau orang yang akan pergi itu biasanya membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian tetangga berdatangan ke rumah Alm, beramai-ramai membereskan rumah untuk menantikan kedatangan jenazah. Sementara aku, menyusul ke RSUD bersama anak-anak Alm (2 orang, 1 laki-laki kelas 3 STM & 1 perempuan kelas 2 SMP).
Sabtu siang jenazah diberangkatkan ke masjid untuk disholatkan setelah selesai dimandikan dan dikafani, dan setelah itu diantar ke tempat peristirahatan yang terakhir. Semoga Alm. diterima disisi Allah SWT, dilapangkan jalannya, dilapangkan kuburnya, dan diterima segala amal ibadahnya serta diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT. Amin..
Kami mungkin tidak begitu banyak mengenal sosok Alm, karena Alm. bukan orang yang suka banyak bicara, tetapi Alm. tidak sombong. Yang jelas, Dymsi yang awalnya takut bila dekat dengan Wak-nya, perlahan-lahan mulai berani dan suka. Dymsi memanggil Alm. dengan sebutan Wak Deden, yang tak kami ketahui apa artinya.
Jelas kami juga merasa sangat kehilangan, apalagi Istri dan anak beliau. Aku hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan Wak perempuan selanjutnya, karena selama ini Wak perempuan adalah ibu rumah tangga biasa..
Sabtu malam tetangga di rumah Nenek Dymsi (Ibu Hubby or Mertuaku) yang berpulang ke Rahmatullah. Minggu kemarin kami melayat ke rumah duka. Dan sekali lagi aku melihat jasad seorang Bapak yang telah tak bernyawa. Sejujurnya, selama ini aku belum pernah menghadapi orang meninggal di depan mata, seperti kejadian 2 hari belakangan. Bahkan ketika Wak meninggal, aku sempat berdiri di kamar mayat dalam waktu yang cukup lama. itu cukup membuat aku takut, dengan perut yang mulai mual.
Semua akan kembali kepada-Nya, kita juga. Dalam waktu yang tak bisa ditebak. Kejadian ini seharusnya membuat kita- terutama daku lebih intropeksi diri, supaya ketika dijemput suatu hari nanti, kita benar-benar siap untuk menghadapi babak kehidupan selanjutnya, yang semua masih menjadi misteri....
Labels:
Renungan •
tentang sahabat
3.31.2008
MABIT di SMPIT
Sempat ragu untuk ikut Mabit malam minggu kemarin, akhirnya terealisasi juga. Hubby maunya anak istri ikut. Keraguanku bermula dari keadaan yang dalam seminggu ini Dymsi sering bangun malam, kadang jam 1, kadang jam 3 dini hari. Ternyata di SMPIT, Dymsi berkelakuan baik. Alhamdulillah. Kami berdua tidur di perpustakaan, dikarpet yang cukup tebal. Gak banyak ustadzah maupun para istri ustad yang ikut, menurut Hubby ini berbeda dengan tahun kemarin. Jadi intinya gak seramai tahun kemarin.Melewati jalan menuju sekolah, pemandangan banjir disepanjang jalan setelah menyebrang jembatan leighton. Beberapa anak-anak berdiri di tengah jalan meminta sumbangan. Tenda-tenda juga didirikan dipinggir jalan itu. Kasihan memang, melihat kondisi rumah penduduk yang setengah bagian rumahnya tergenang air.
Minggu pagi, dalam perjalanan pulang aku melihat kembali kondisi banjir dengan jelas. Beberapa lokasi kondisi air yang tergenang mulai berbuih, dan itu bukan pertanda sehat. Malah sebagian Ibu-ibu nampak sedang mencuci pakaian mereka di air yang berwarna coklat tersebut.
Ternyata banjir membawa rentetan panjang, dalam perjalanan 'akan' banjir hingga 'sesudahnya'. Entah sampai kapan Pekanbaru, khususnya daerah Rumbai lepas dari banjir ini, karena kejadian ini bukan tahun ini saja, tapi merupakan ulangan dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan mungkin tahun ini adalah banjir terparah.
3.22.2008
Dapat Comment dari Afiz
Hubby baru saja memberitahukan bahwa ada yang comment di blog lama. Katanya sih sekampung. Akhirnya aku membaca kembali isi blog lamaku. Mengingat Wong, mengingat masa lalu. Kematian itu adalah misteri. Seperti pada kepergian orang-orang yang kucintai. kusayangi.
Lebih dari setahun kepergian Wong, dan hampir 8 tahun kepergian Bapak. Ketika mereka pergi, aku tidak merada di dekat mereka.., aku tidak melihat bagaimana mereka menghadapi sakaratul maut. Bagaimana keadaan mereka ketika Malaikat Jibril menjemput..
Sekarang yang ada di kampung hanya Mamak, dan abangku serta istri dan anak-anaknya. Beberapa tetangga yang 'satu tingkat' dengan Mamak masih ada, dan beberapa pula ada yang telahpergi. Dunia ini begitu cepat silih berganti, cepat sekali. Bahkan bumi berputar setiap hari seperti tiada terasa..
Seperti halnya Afiz, yang comment di blog lamaku itu. Seingatku, dulu dia masih ingusan, masih kecil. Ternyata sekarang sudah dewasa.., dan sudah bisa memberikan comment di blogku. Ternyata, kunjungan Afiz ini membuat aku sadar bahwa aku sudah cukup berumur..
Afiz ini adiknya Rosi, teman sepermainanku. Kami bertetangga, jarak antar rumahku hanya dibatasi satu rumah saja, yaitu tumah Pit.
Anak-anak yang dulu masih sering bermain berkolompok, bahkan punya gap sendiri-sendiri, sekarang justru sudah memiliki anak. Para orang tua kami, seperti mamak, sudah barang tentu merindukan melihat suasana halaman, dimana anak-anak mereka bermain, berebutan, berlarian... Merindukan para istri atau para suami yang dulu pernah ada di sisi.. Kalau mengingat itu semua, aku sangat sayang pada Mamak, karena mungkin di kompleks rumah kami, mamak adalah orang yang paling banyak merasakan kehilangan.........
Lebih dari setahun kepergian Wong, dan hampir 8 tahun kepergian Bapak. Ketika mereka pergi, aku tidak merada di dekat mereka.., aku tidak melihat bagaimana mereka menghadapi sakaratul maut. Bagaimana keadaan mereka ketika Malaikat Jibril menjemput..
Sekarang yang ada di kampung hanya Mamak, dan abangku serta istri dan anak-anaknya. Beberapa tetangga yang 'satu tingkat' dengan Mamak masih ada, dan beberapa pula ada yang telahpergi. Dunia ini begitu cepat silih berganti, cepat sekali. Bahkan bumi berputar setiap hari seperti tiada terasa..
Seperti halnya Afiz, yang comment di blog lamaku itu. Seingatku, dulu dia masih ingusan, masih kecil. Ternyata sekarang sudah dewasa.., dan sudah bisa memberikan comment di blogku. Ternyata, kunjungan Afiz ini membuat aku sadar bahwa aku sudah cukup berumur..
Afiz ini adiknya Rosi, teman sepermainanku. Kami bertetangga, jarak antar rumahku hanya dibatasi satu rumah saja, yaitu tumah Pit.
Anak-anak yang dulu masih sering bermain berkolompok, bahkan punya gap sendiri-sendiri, sekarang justru sudah memiliki anak. Para orang tua kami, seperti mamak, sudah barang tentu merindukan melihat suasana halaman, dimana anak-anak mereka bermain, berebutan, berlarian... Merindukan para istri atau para suami yang dulu pernah ada di sisi.. Kalau mengingat itu semua, aku sangat sayang pada Mamak, karena mungkin di kompleks rumah kami, mamak adalah orang yang paling banyak merasakan kehilangan.........
Labels:
Renungan •
Tentang saya
3.20.2008
Update Blog
Sudah beberapa kali nyari waktu untuk update blogku ini, baru dapat waktu yg tepat sekarang. Kami baru saja pulang dari rumah Mulyadi, teman lama Hubby sekaligus tetangga sebelah rumah yang sekarang sedang tinggal di rumah orang tuanya di Kecamatan Sukajadi, dlm rangka aqiqah anaknya, Nayla. Oya, ngomongin soal nama, di sini nama Nayla masih menjadi nama favorit. Anak Ustad Yudi (teman Hubby juga) nama anak Nayla. Aku jadi teringat waktu Dymsi sering menangis ketika berumur beberapa bulan juga pernah disarankan oleh Mbak Tuti (temannya Ibu Nugha) untuk mengganti nama Dymsi Qu Radtu Ayuni (yang katanya terlalu berat) menjadi Nayla apa... gitu. Dan usulan ini dianggukkan oleh Ibu Nugha. Ah, ternyata nama Dymsi tetap bertahan..., karena nama ini sudah diberikan sejak daku hamil...
Nah, ngomongin hamil aku & hubby punya planning untuk memulai lagi tahun ini. Rasanya cukup pas dengan umur Dymsi kelak. Lagian tahun ini kan umurku akan 28, jadi pertimbangan juga karena sesuai rencana mau punya anggota 3 orang. Mudah-mudahan Allah meridhoinya, Amin.. Oya masih planning juga, pengennya aku hamil setelah pulang dari Dabo, karena aku khawatir aku bakal seperti hamil pertama kemarin, 3 bulan pertama morning sick-nya lumayan, sering malas ngantor & bawaannya ngantuk. Maksud hatiku biar puas di kampung, puas makannya, puas jalan-jalannya juga...
Hasil penelusuran pencarian rumah hari ini membuahkan beberapa pilihan, tapi tetap saja belum bisa kami ambil keputusan. Ternyata susah juga ya, yang namanya memilih. Apalagi ini untuk jangka waktu yang lama, perlu pertimbangan yang matang sekali & gak bisa sembarangan.
Bu Shandy, aku mau tanya gimana kabar rumah yang di Limbungan? :)
Nah, ngomongin hamil aku & hubby punya planning untuk memulai lagi tahun ini. Rasanya cukup pas dengan umur Dymsi kelak. Lagian tahun ini kan umurku akan 28, jadi pertimbangan juga karena sesuai rencana mau punya anggota 3 orang. Mudah-mudahan Allah meridhoinya, Amin.. Oya masih planning juga, pengennya aku hamil setelah pulang dari Dabo, karena aku khawatir aku bakal seperti hamil pertama kemarin, 3 bulan pertama morning sick-nya lumayan, sering malas ngantor & bawaannya ngantuk. Maksud hatiku biar puas di kampung, puas makannya, puas jalan-jalannya juga...
Hasil penelusuran pencarian rumah hari ini membuahkan beberapa pilihan, tapi tetap saja belum bisa kami ambil keputusan. Ternyata susah juga ya, yang namanya memilih. Apalagi ini untuk jangka waktu yang lama, perlu pertimbangan yang matang sekali & gak bisa sembarangan.
Bu Shandy, aku mau tanya gimana kabar rumah yang di Limbungan? :)
3.08.2008
Ketularan Meni - Tertarik Linux?
Pekan ini aku dilanda demam 2 hari, dan setelah sembuh disambung dengan penyakit sariawaty. Sepertinya ini adalah pelajaran karena aku mulai ketularan penyakitnya Meni, hobby makan..
Ampun banget, teman kantorku yang satu ini memang badannya mungil, tapi ususnya berbelit-belit dan puanjang.. Bener deh, udah sarapan sama belum sarapan sama aja, maunya makan.. Itu di bawah jam 12 lho, belum lagi diatas jam 12 atau menjelang sore... Semenjak dia direkrut ke kantorku, ampun deh, kami jadi tumpul dibuatnya.. Bawaannya pusing kalo gak ada makanan alias cemilan..
Oya, sepertinya aku mulai tertarik pada Linux. Programnya bagus-bagus, memang. Gak kalah sama Windows..., malah ada beberapa game berlogo 'bebek'-ala Dymsi alias pinguin - logonya Linux. Saking pengen belajarnya, Hubby install beberapa macam, ada Mandriva, Open Suse, Ubuntu.. entah apa lagi ya.. Sampai-sampai aku harus bersedih hati karena gak bisa nonton TV lagi di kamar... TVRnya gak jalan sampai sekarang. Wuiks.., untung aja gak mania sinetron. Tapi sesekali aku kan pengen nonton Bioskop Trans TV juga.., bukannya tidur melulu sehabis sholat Isya...
Planning besok mau ke rumah Ibu, udah hampir 2 mingguan Dymsi gak ke rumah Neneknya. Trus ntar malam kalo gak hujan juga mau ke Awal Bross, melihat baby-nya Nova & Mul, yang baru lahir jam tadi pagi..
Met wiken ya..
Ampun banget, teman kantorku yang satu ini memang badannya mungil, tapi ususnya berbelit-belit dan puanjang.. Bener deh, udah sarapan sama belum sarapan sama aja, maunya makan.. Itu di bawah jam 12 lho, belum lagi diatas jam 12 atau menjelang sore... Semenjak dia direkrut ke kantorku, ampun deh, kami jadi tumpul dibuatnya.. Bawaannya pusing kalo gak ada makanan alias cemilan..
Oya, sepertinya aku mulai tertarik pada Linux. Programnya bagus-bagus, memang. Gak kalah sama Windows..., malah ada beberapa game berlogo 'bebek'-ala Dymsi alias pinguin - logonya Linux. Saking pengen belajarnya, Hubby install beberapa macam, ada Mandriva, Open Suse, Ubuntu.. entah apa lagi ya.. Sampai-sampai aku harus bersedih hati karena gak bisa nonton TV lagi di kamar... TVRnya gak jalan sampai sekarang. Wuiks.., untung aja gak mania sinetron. Tapi sesekali aku kan pengen nonton Bioskop Trans TV juga.., bukannya tidur melulu sehabis sholat Isya...
Planning besok mau ke rumah Ibu, udah hampir 2 mingguan Dymsi gak ke rumah Neneknya. Trus ntar malam kalo gak hujan juga mau ke Awal Bross, melihat baby-nya Nova & Mul, yang baru lahir jam tadi pagi..
Met wiken ya..





